[SALAH] Vaksinasi HPV Bisa Membahayakan Nyawa Anak

Akun Instagram “singanuswantara” pada Selasa, (17/02/2026) mengunggah video [arsip] yang memuat cuplikan layar artikel Kompas.com yang membahas rencana pemberian vaksin HPV bagi anak laki-laki usia 11 tahun pada 2027. Gambar berita itu kemudian dipadukan dengan video seorang pria yang menyatakan penolakan terhadap vaksin. Pemilik akun juga menarasikan bahwa Indonesia disebut-sebut menjadi negara pertama yang dijadikan lokasi uji coba vaksin kanker dan TBC. Video itu disertai dengan narasi sebagai berikut:

Wahai Rakyat Indonesia,, masihkah kalian tertidur ?! Buka Mata Kalian ...


Mari berjuang bersama selamatkan bangsa ini 🙏🇮🇩 Panjang umur perjuangan seluruh Patriot Pembela Bangsa @pongrekundharma88 @siti_fadilah_supari

@babehmpr101

(narasi lanjutan pada penjelasan periksa fakta)

Hingga artikel ini tayang, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 33.000 tayangan, disukai oleh 2.225 akun, dan mendapatkan 264 interaksi komentar.


Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri klaim yang menyebut Indonesia menjadi negara uji coba vaksin kanker dan TBC dengan mengaitkannya pada rencana pemberian vaksin HPV untuk anak laki-laki usia 11 tahun pada 2027. Hasil penelusuran tidak menemukan sumber kredibel yang membenarkan narasi tersebut. Laporan Kompas.com yang dipakai dalam tangkapan layar itu menyebutkan bahwa pemberian vaksinasi HPV pada anak laki-laki bertujuan memperluas perlindungan terhadap penularan virus penyebab utama kanker leher rahim, bukan sebagai uji coba berbahaya.

Video seorang pria yang diklaim menolak vaksin HPV juga tidak relevan. Penelusuran menunjukkan rekaman tersebut adalah aksi protes terhadap kebijakan vaksin Covid-19 di depan Kementerian Kesehatan pada 27 Januari 2022, yang sebelumnya ditayangkan oleh iNews dan RCTI. Dengan demikian, klip itu tidak berkaitan dengan program vaksinasi HPV.

Keterangan dari para ahli yang dimuat Tempo.co menjelaskan bahwa vaksin HPV telah melalui tahapan riset panjang, mulai dari uji praklinis hingga uji klinis fase satu sampai empat. Vaksin ini telah disetujui sejak 2006 oleh WHO, European Medicines Agency, dan FDA Amerika Serikat, serta digunakan di lebih dari 125 negara, sehingga bukan produk eksperimental.

Berbagai studi internasional juga menunjukkan vaksin HPV efektif menurunkan infeksi dan risiko kanker serviks secara signifikan. Pemberian pada anak usia 9–13 tahun dilakukan karena respons imun pada usia tersebut lebih optimal. Klaim bahwa vaksin HPV merupakan uji coba yang membahayakan tidak didukung bukti ilmiah dan bersifat menyesatkan.

(lanjutan narasi)
Jangan jadikan generasi anak bangsa menjadi Kelinci Percobaan ? @kemenkes_ri

Jangan bermain-main dengan NYAWA RAKYAT INDONESIA ❗❗❗


Ingat, menkes Budi Gunadi Sadikin sudah tanda tangan kontrak dgn Bi// Gates utk mentransformasikan kesehatan rakyat Indonesia tanpa seizin kita rakyat. (Peraturan 1341 thn 2022).


Klaim bahwa Indonesia menjadi negara uji coba vaksin kanker dan TBC melalui program vaksinasi HPV tidak benar. Video yang dikaitkan dengan penolakan vaksin juga tidak relevan karena merupakan aksi protes vaksin Covid-19 pada 2022. Faktanya, vaksin HPV telah melalui uji klinis ketat, digunakan secara luas di berbagai negara, dan bertujuan mencegah kanker akibat infeksi HPV. Dengan demikian, video dengan klaim “vaksinasi HPV bisa membahayakan nyawa anak” merupakan konten yang menyesatkan (Misleading Content).

https://health.kompas.com/read/26B15080000768/vaksin-hpv-diperluas-anak-laki-laki-usia-11-tahun-mulai-divaksin-2027
https://www.youtube.com/watch?v=kxjcZhHaaeA
https://www.youtube.com/watch?v=-5PlY5nahm0
https://www.tempo.co/cekfakta/keliru-vaksinasi-hpv-membahayakan-nyawa-anak-anak-2117694

Publish date : 2026-03-04