CEK FAKTA: Hoaks Kandungan Thimerosal dalam Vaksin Campak Menyebabkan Autisme Anak
Beredar sebuah pesan berantai di aplikasi WhatsApp dan media sosial yang mengklaim bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme pada anak. Narasi tersebut menyebutkan bahwa kandungan thimerosal (etil merkuri) dalam vaksin menjadi penyebab munculnya Autisme Spectrum Disorder (ASD).
Pesan itu juga memuat cerita seorang orangtua yang mengaku anaknya didiagnosis autisme setelah menerima vaksin pada masa bayi, seperti vaksin Hepatitis B dan HiB. Dalam pesan tersebut juga disebutkan bahwa zat pengawet thimerosal dalam vaksin diduga memicu lonjakan kasus autisme sejak awal 1990-an.
Narasi tersebut bahkan merujuk buku Children with Starving Brains karya Jaquelyn McCandless sebagai rujukan, sekaligus mengimbau para orangtua untuk berhati-hati memberikan vaksin kepada anak.
Pesan serupa juga kerap dikaitkan dengan vaksin MMR (measles, mumps, rubella) atau vaksin campak, yang disebut-sebut dapat memicu autisme pada anak.
Informasi tersebut telah beredar selama bertahun-tahun dan kembali viral melalui berbagai platform media sosial.
https://web.facebook.com/kurie.alim.14/posts/167017367838860
Lantas, benarkah vaksin, termasuk vaksin campak atau MMR, dapat menyebabkan autisme?
Penelusuran Fakta
Tim Cek Fakta menelusuri klaim tersebut melalui penjelasan resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit saat itu, Anung Sugihantono, menegaskan bahwa informasi mengenai vaksin penyebab autisme merupakan hoaks yang telah beredar sejak lama.
Menurut Kementerian Kesehatan, thimerosal merupakan bahan pengawet yang digunakan dalam sejumlah produk farmasi untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme dan menjaga stabilitas vaksin. Berbagai penelitian ilmiah sejak 2002 menunjukkan tidak ada hubungan antara thimerosal dalam vaksin dengan autisme.
“Ito berita hoaks sejak tahun 2015 yang lalu,” kata Anung saat dikonfirmasi oleh Kompas.com .
Kajian keamanan vaksin juga dilakukan oleh Indonesian Technical Advisory Group on Immunization bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hasil kajian tersebut menegaskan bahwa manfaat vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan potensi risiko dari penggunaan thimerosal dalam jumlah kecil.
Sumber: [HOAKS] Kandungan Thimerosal dalam Vaksin Sebabkan Autisme | Kompas
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh dokter umum Gracia Fensynthia yang dikutip dari platform kesehatan Alodokter.
Menurut dr. Gracia, kekhawatiran vaksin menyebabkan autisme berawal dari sebuah penelitian pada 1998 di Inggris yang mengaitkan vaksin MMR dengan autisme. Namun penelitian tersebut kemudian terbukti keliru dan telah ditarik dari publikasi ilmiah.
Sejak saat itu, berbagai penelitian berskala besar dilakukan untuk menguji klaim tersebut. Salah satunya adalah penelitian pada 2019 yang melibatkan hampir 660.000 anak selama 11 tahun, yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin dengan autisme.
Sumber: Vaksinasi Menyebabkan Autisme, Ini Faktanya | Alodokter
Penjelasan lebih lanjut juga disampaikan oleh Dominicus Husada, Kepala Divisi Penyakit Infeksi dan Tropis Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Menurut dr. Dominicus, klaim yang mengaitkan vaksin MMR dengan autisme berasal dari penelitian tahun 1998 yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet dan dipimpin oleh Andrew Wakefield.
Penelitian tersebut mengklaim adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme. Namun setelah delapan tahun, penelitian itu terbukti memiliki banyak kelemahan metodologis, termasuk jumlah sampel yang sangat kecil serta adanya manipulasi data.
Akhirnya jurnal The Lancet menarik kembali publikasi tersebut. Andrew Wakefield juga dicabut izin praktik kedokterannya.
“Ada sembilan penelitian ilmiah berskala besar yang telah membuktikan bahwa klaim ini tidak benar dan tidak berdasar secara ilmiah,” tegas dr. Dominicus.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun penelitian tersebut sudah dibatalkan dan terbukti tidak valid, dampak misinformasi itu masih terasa hingga sekarang karena sebagian masyarakat masih mempercayainya.
“Hoaks ini sudah terbantahkan secara ilmiah. Orangtua seharusnya tidak perlu ragu memvaksin anaknya,” ujarnya.
Para ahli juga menjelaskan bahwa vaksin memang dapat menimbulkan reaksi ringan, seperti demam, nyeri, atau bengkak di area suntikan. Namun efek tersebut bersifat sementara dan jauh lebih kecil dibandingkan manfaat vaksin dalam mencegah penyakit serius seperti pneumonia, campak, dan meningitis.
Kesimpulan
Klaim bahwa vaksin, termasuk vaksin campak atau MMR, menyebabkan autisme adalah tidak benar.
Penelitian yang pernah mengaitkan vaksin dengan autisme pada 1998 telah dinyatakan keliru dan ditarik dari jurnal ilmiah. Sejumlah penelitian berskala besar yang dilakukan setelahnya juga tidak menemukan hubungan antara vaksin dengan autisme.
Dengan demikian, informasi yang menyebut vaksin menyebabkan autisme tergolong hoaks atau informasi menyesatkan.
https://www.kompas.com/tren/read/2020/01/04/072900165/-hoaks-kandungan-thimerosal-dalam-vaksin-sebabkan-autisme
https://www.alodokter.com/vaksinasi-dapat-menyebabkan-autisme
Publish date : 2026-03-11
Hal Menarik Lainnya...