Hoaks, Hantavirus Efek Samping dari Vaksin Pfizer

tirto.id - Beredar unggahan di media sosial Facebook yang mengklaim vaksin Pfizer memberikan efek samping, yaitu adanya hantavirus. Virus tersebut juga diklaim tidak menular dari manusia ke manusia karena cara masuknya disuntik melalui vaksin.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Uma A” (arsip) pada Jumat (8/5/2026). Unggahan tersebut memperlihatkan beberapa foto tangkapan layar yang menjelaskan keterikatan berbagai macam vaksin dengan adanya hantavirus, dimulai dari vaksin COVID, Moderna, dan korban hantavirus di kapal Hondius.

let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

“Benar kata WHO. Mereka sudah terinfeksi sebelum naik kapal. Ai grok juga membenarkan yaitu hanta virus tidak menular melalui manusia ke manusia. Adanya hanta virus adalah efek samping dari vaksin pjer dan di tulis langsung oleh pjer 🤣. Wajar tdk menular dari manusia ke manusia. Cara masuknya disuntik melalui vaksin😆. Tenang, vaksin hanta udh dibuat moderna 2024😆 Yang idiot pada sibuk ketakutan 😆. Mainan thrds wajar makin gila karena yg dibaca ketakutan terus. Cara main thrds sama seperti Twitter tapi isi literasi rakyatnya berbeda. Biasanya org gila emang suka ngumpul sesama org gila.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.

let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

#gpt-inline3-passback{text-align:center;}

Sampai artikel ini ditulis pada Senin (18/5/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 588 likes, 113 komentar, dan 261 kali dibagikan. Kolom komentar terbagi dua, sebagian komentar menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat, dan sebagian lainnya mempercayai informasi tersebut dan bersyukur karena menolak vaksin.

let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

#gpt-inline4-passback{text-align:center;}

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Fauji Ru” (arsip) pada Kamis (7/5/2026), yang memperlihatkan gambar dengan klaim daftar efek samping vaksin COVID-19 Pfizer termasuk infeksi paru-paru hantavirus.

Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

Baca juga:Dinkes Tangsel Imbau Warga Waspada Hantavirus & Jaga Kebersihan

Periksa Fakta Efek Samping Vaksin Pfizer. foto/hotline periksa fakta tirto

Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasil penelusuran tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

Kemudian, Tirto mengetikkan kata kunci “Hantavirus adalah efek samping dari vaksin Pfizer.” Hasil penelusuran mengarahkan ke laman Kementerian Komunikasi dan Digital, yang menyatakan bahwa narasi yang mengklaim bahwa hantavirus merupakan efek samping vaksin Covid-19 produksi Pfizer adalah tidak benar.

Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, menegaskan bahwa klaim hantavirus merupakan efek samping dari vaksin COVID-19 produksi Pfizer atau vaksin mRNA lainnya seperti Moderna merupakan narasi yang tidak memiliki dasar ilmiah dan termasuk bentuk misinformasi kesehatan yang dapat menyesatkan masyarakat.

Secara virologi, hantavirus adalah kelompok virus zoonotik dari famili Hantaviridae yang secara alami berreservoir pada hewan pengerat, terutama tikus dan rodensia liar lainnya. Penularan kepada manusia umumnya terjadi melalui inhalasi aerosol dari urin, feses, atau saliva rodensia yang terinfeksi, bukan melalui vaksinasi intramuskular. Dengan demikian, secara patogenesis, mekanisme transmisi hantavirus sama sekali tidak berkaitan dengan platform vaksin mRNA COVID-19.

Menurut World Health Organization, hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dan sering kali kematian, meskipun penyakitnya bervariasi tergantung pada jenis virus dan lokasi geografis.

Pada manusia, gejala biasanya mulai muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar, tergantung pada jenis virusnya, dan biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, serta gejala gastrointestinal seperti sakit perut, mual, atau muntah.

Public Health and Medical Professionals for Transparency dalam phmpt.org menuliskan dokumen dengan 38 halaman yang memuat analisis laporan kejadian ikutan pasca-otorisasi vaksin Covid-19 yang diproduksi Pfizer/BioNTech. Meski tercantum dalam dokumen Pfizer, bukan berarti bahwa vaksin tersebut menyebabkan infeksi paru-paru akibat hantavirus.

Narasi yang mengklaim bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus muncul setelah beredar tangkapan layar dokumen Pfizer yang mencantumkan “hantavirus pulmonary infection” dalam daftar Adverse Events of Special Interest (AESI).

Namun, daftar tersebut bukan daftar efek samping yang terbukti disebabkan oleh vaksin. Pfizer menjelaskan bahwa dokumen itu hanya mencatat berbagai kondisi medis yang terjadi selama periode pemantauan vaksin COVID-19, tanpa otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat dengan vaksin.

Melansir laman Reuters.com, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer COVID-19 menyebabkan hantavirus atau mengandung hantavirus. Penyebutan hantavirus dalam dokumen Pfizer hanyalah bagian dari pemantauan berbagai kejadian medis selama masa studi vaksin, bukan bukti hubungan langsung dengan vaksin.

“There are no hantaviruses in the ingredient list of the Pfizer COVID vaccine, now called Comirnaty. According to Pfizer’s website, opens new tab, the Comirnaty shot does not contain live viruses.” Begitu ditulis dalam Reuters.

Klaim yang menyebutkan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus adalah menyesatkan. Hantavirus masuk dalam dokumen Pfizer hanya sebagai catatan riwayat medis selama masa pemantauan studi, bukan sebagai efek samping dari vaksin itu sendiri.

“Misleading. Hantavirus pulmonary infection appeared in ⁠a list ​that recorded any medical event a person experienced during Pfizer’s study period, regardless ​of whether the medical event was caused by the vaccine. Pfizer’s regulatory document lists events that were later found to be causally related to the shot, and this ​list does not include a hantavirus pulmonary infection.”

Menurut dr. Andreas Wilson, kesalahpahaman publik ini sebagian besar muncul akibat interpretasi keliru terhadap dokumen farmakovigilans Pfizer yang mencantumkan istilah “hantavirus pulmonary infection” dalam daftar Adverse Events of Special Interest (AESI). Perlu dipahami bahwa AESI bukanlah daftar efek samping yang terbukti disebabkan oleh vaksin, melainkan daftar seluruh kejadian medis yang dilaporkan selama periode observasi pascavaksinasi, terlepas dari hubungan kausalnya.

"Dalam studi keamanan obat dan vaksin, semua kejadian klinis wajib dicatat untuk tujuan surveillance, termasuk penyakit yang sama sekali tidak berhubungan langsung dengan produk yang diuji. Dengan kata lain, keberadaan istilah hantavirus dalam dokumen tersebut tidak berarti vaksin menyebabkan hantavirus, melainkan hanya bahwa ada laporan kejadian tersebut selama masa pemantauan," tambahnya.

Menurut hasil penelitian gov.uk, vaksin Pfizer BNT162b2 adalah vaksin mRNA yang berisi materi genetik untuk menginstruksikan sel tubuh untuk membuat protein spike SARS-CoV-2 agar sistem imun membentuk perlindungan terhadap COVID-19. Komponen utamanya adalah mRNA SARS-CoV-2, lipid nanoparticles (pembungkus mRNA), PEG/polyethylene glycol, garam, gula (sukrosa) dan air injeksi. Vaksin ini tidak mengandung virus hidup, mikrochip, nanobot, ataupun hantavirus.

Dokter Andreas Wilson menambahkan, Vaksin Comirnaty (BNT162b2) milik Pfizer/BioNTech merupakan vaksin berbasis messenger RNA (mRNA), yang hanya mengandung instruksi genetik untuk sintesis protein spike SARS-CoV-2 guna merangsang respons imun adaptif tubuh. Komponen vaksin ini terdiri atas mRNA sintetis, lipid nanoparticle sebagai sistem penghantar, polyethylene glycol (PEG), buffer salts, sukrosa, dan air steril untuk injeksi.

Vaksin ini tidak mengandung virus hidup, tidak mengandung virus hantavirus, tidak mengandung nanoteknologi biologis seperti “nanobot”, dan tidak mengandung agen infeksi lain di luar komponen yang telah dijelaskan secara resmi. Oleh sebab itu, tuduhan bahwa hantavirus “disuntikkan” melalui vaksin Pfizer merupakan pernyataan yang bertentangan dengan prinsip farmakologi dan imunologi dasar

Vaksin Pfizer ini memang memiliki risiko miokarditis, terutama diamati pada laki-laki muda setelah dosis kedua, tetapi kasusnya jarang dan sebagian besar pulih. Tidak ada bukti dalam dokumen ini maupun bukti ilmiah bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus.

Sebagaimana dalam rangkuman Tirto, hantavirus adalah penyakit yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, bukan hasil rekayasa atau efek samping vaksin Covid-19. Virus hanta diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya.

Sebagai informasi, hantavirus diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya. Faktor risiko utama di antaranya aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.

Menurut dr. Wilson, secara epidemiologis, infeksi hantavirus pada manusia dapat bermanifestasi sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), tergantung pada strain virus dan wilayah geografis. Manifestasi klinis biasanya meliputi demam tinggi, mialgia berat, nyeri kepala, gangguan gastrointestinal, trombositopenia, hingga gagal napas akut akibat edema paru nonkardiogenik.

Penyakit ini memiliki mortalitas yang cukup tinggi, khususnya pada HPS. Faktor risiko utama bukanlah riwayat vaksinasi, melainkan paparan lingkungan dengan infestasi tikus tinggi, seperti gudang tertutup, area pascabanjir, pertanian, hutan, dan lokasi berkemah. Hal ini semakin menegaskan bahwa hantavirus adalah penyakit zoonosis lingkungan, bukan komplikasi imunisasi.

Baca juga:Tidak Benar, Bill Gates Sebut Vaksin untuk Mengurangi Penduduk

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan efek samping hantavirus adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

Hantavirus adalah penyakit yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat dan diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya.

Tidak ditemukan bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan hantavirus. Penyebutan hantavirus dalam dokumen Pfizer hanyalah bagian dari pemantauan berbagai kejadian medis selama masa studi vaksin, bukan bukti hubungan langsung dengan vaksin.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0p1722vzX4m5o4VzcEbV64QZZic1G62Jg6CskmjkjT8Jcoj6Z3r2GUeu7jqvKvKM7l&id=61577212362604
https://web.archive.org/web/20260518044134/https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0p1722vzX4m5o4VzcEbV64QZZic1G62Jg6CskmjkjT8Jcoj6Z3r2GUeu7jqvKvKM7l&id=61577212362604
https://www.facebook.com/fauji.apriansyah/posts/pfbid028fpAbR5GmFV8f9umZrFmgvMqbYH3K8nyMTKgVGNXdHRyNL822Ggdzv4qbzmVm5Sol
https://archive.today/2Gk08
https://tirto.id/dinkes-tangsel-imbau-warga-waspada-hantavirus-jaga-kebersihan-hwgr
https://www.komdigi.go.id/berita/berita-hoaks/detail/hoaks-hantavirus-adalah-efek-samping-vaksin-covid-19-pfizer
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hantavirus
https://phmpt.org/wp-content/uploads/2021/11/5.3.6-postmarketing-experience.pdf
https://www.reuters.com/fact-check/hantavirus-infection-is-not-confirmed-side-effect-pfizers-covid-19-vaccine-2026-05-08/
https://www.gov.uk/government/publications/regulatory-approval-of-pfizer-biontech-vaccine-for-covid-19/information-for-healthcare-professionals-on-pfizerbiontech-covid-19-vaccine
https://tirto.id/salah-bill-gates-luncurkan-hantavirus-projek-modifikasi-manusia-hv5Q
https://tirto.id/tidak-benar-bill-gates-sebut-vaksin-untuk-mengurangi-penduduk-hvWv

Publish date : 2026-05-20