Salah, Vaksin COVID-19 Sebabkan Kematian Pelari dan Pendaki

tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Threads mengklaim bahwa terjadi kasus serangan jantung, pingsan, dan kematian yang dialami penerima vaksin COVID-19 yang beraktivitas atau berolahraga berat, khususnya terjadi pada pendaki gunung dan pelari.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Threads @satzoutboy2026 (arsip) pada Minggu (19/7/2026) yang menuliskan klaim, orang yang sudah mendapatkan vaksin COVID-19 jenis mRNA dan adenovirus harus sering memeriksa EKG, ECG, fungsi liver dan ginjalnya karena terjadi kasus serangan jantung hingga pingsan, serta kematian pada pendaki gunung.

let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

“Lagi-lagi ada kasus serangan jantung sehingga pingsan dan MD. Kali ini akibat kelelahan mendaki gunung 😢 mohon jika sudah vaksin covid memakai jenis mRNA dan Adenovirus sering-sering cek EKG, ECG, fungsi liver dan fungsi ginjalnya dan konsultasi ke dokter spesialis terdekat 😢.” Begitu narasi yang dituliskan.

let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

#gpt-inline3-passback{text-align:center;}

Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (4/8/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan seribu tanda suka, 486 komentar, 94 kali diunggah ulang, dan 175 kali dibagikan. Kolom komentar terbagi dua, sebagian warganet tidak mempercayai informasi tersebut dan menyarankan pengunggah agar menuliskan bukti ilmiah dan sebagian lainnya menanyakan kebenaran informasi tersebut.

let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

#gpt-inline4-passback{text-align:center;}

“Ga bener ya, sampai saat ini vaksin atau tidak vaksin bukan faktor resiko penyakit jantung atau serangan jantung..merokok, hipertensi, diabetes,obesitas masih penyebab utama serangan jantung. Yuk stop menyebarkan ketakutan yg tak perlu spt ini.” begitu tulis salah satu komentar.

Lantas, bagaimana kebenaran narasi yang menyebutkan larangan orang yang telah menerima vaksin COVID-19 untuk melakukan aktivitas fisik berat atau berolahraga?

Baca juga:Keliru, Video Bill Gates Sebut Vaksin COVID-19 Akan Mengubah DNA

Periksa Fakta vaksin covid sebabkan pelari tewas. foto/hotline periksa fakta tirto

Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

Sebagai informasi, dalam laman Bali Postdikabarkan, seorang pendaki asal Kabupaten Tabanan, I Gusti Agung Putu Agus Eka Sanjaya, meninggal dunia saat mendaki Gunung Agung melalui jalur Pura Pasar Agung, Banjar Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem, Sabtu (18/7).

Kepala Puskesmas Selat, I Made Sudarba pada Minggu (19/7/2026) mengatakan bahwa pendaki tersebut pingsan saat melakukan pendakian, kemudian diberikan pertolongan awal dan dibawa ke Puskesmas Selat. Namun pendaki tersebut dinyatakan meninggal dunia akibat mengalami kelelahan.

“Sayang selang beberapa menit kemudian korban dinyatakan meninggal dunia. Korban meninggal diperkirakan akibat mengalami kelelahan karena memaksakan mendaki sehingga terjadi gagal jantung. Kami sudah upayakan untuk melakukan penanganan yang terbaik, tapi nyawa korban tetap tak tertolong,” begitu keterangan Sudarba.

Sementara itu, melansir laman Tempo terkait kematian seorang pelari di Bandung di Jalan Ibrahim Adjie, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, pada 11 Juli 2026 tidak ada kaitannya dengan vaksin.

Menurut Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung, Ade Koesjanto, ketika tim kesehatan hendak mengevakuasi, pelari bernama Addo Wibisono (33) tersebut telah meninggal. Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Sartika Asih Bandung.

“Tidak ada informasi bahwa kematiannya karena baru divaksin,” kata Ade sebagaimana dikutip dari Tempo.

Kejadian ini dikonfirmasi terjadi karena yang bersangkutan kelelahan dan tidak ada kaitannya dengan korban telah menerima vaksin COVID-19.

Laman National Library of Medicine, menyatakan bahwa tidak ada bukti, olahraga sebelum atau setelah vaksinasi COVID-19 mengurangi efektivitas vaksin. Aktivitas fisik setelah vaksinasi juga secara umum dinilai aman selama orang tersebut merasa cukup sehat.

Bahkan, beberapa penelitian yang ditinjau menunjukkan, olahraga ringan hingga sedang dapat membantu meningkatkan respons antibodi.

Aktivitas fisik tidak secara umum dilarang setelah vaksinasi, tetapi intensitasnya perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan sebaiknya tidak memaksakan olahraga berat ketika sedang mengalami efek samping vaksin.

Penelitian ini menunjukkan bahwa respons antibodi vaksinasi COVID-19 ditingkatkan oleh olahraga tanpa peningkatan efek samping. Selain itu, olahraga intensitas ringan hingga sedang dengan durasi lebih lama meningkatkan respons antibodi di berbagai formulasi vaksin.

Selanjutnya, olahraga intensitas ringan hingga sedang dengan durasi lebih lama dapat meningkatkan respons antibodi terhadap berbagai formulasi vaksin, efek ini dapat dikaitkan dengan perubahan IFNα (Interferon-alfa) yang diinduksi olahraga.

Aktivitas fisik dianggap sebagai terapi serta pemeliharaan kebugaran fisik. Olahraga sebelum dan sesudah vaksinasi dapat membantu mengatasi dampak negatif dari respons imun vaksin yang dipicu stres.

Lebih lanjut, menurut data ⁠Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan publikasi di ⁠PLoS Medicine menegaskan, tidak ada kaitan antara vaksin mRNA COVID-19 dengan peningkatan risiko kematian mendadak atau serangan jantung pada usia muda.

Dalam penelitian tersebut justru dituliskan data, bahwa tidak adanya hubungan antara penerimaan vaksin mRNA COVID-19 dan kematian jantung mendadak di antara orang muda yang sebelumnya sehat. Vaksinasi COVID-19 direkomendasikan untuk semua orang berusia ≥6 bulan untuk mencegah COVID-19 dan komplikasinya, termasuk kematian.

Sebuah studi kasus-kontrol dilakukan dengan melibatkan penduduk Ontario berusia 12–50 tahun tanpa komorbiditas yang terdokumentasi, yang menyebabkan kematian dini antara 1 April 2021 dan 30 Juni 2023. Studi tersebut dilakukan untuk meneliti hubungan antara vaksinasi COVID-19 dan kematian mendadak. Hasil utama yang diamati adalah kematian mendadak, faktor paparan yang diteliti adalah segala bentuk vaksinasi COVID-19.

Dari 6.365.451 individu yang memenuhi syarat, 4.806 kasus yang mengalami kematian mendadak dicocokkan dengan 24.030 kontrol yang masih hidup pada tanggal kematian mendadak untuk setiap kasus yang bersangkutan. Hasilnya membuktikan, penerimaan vaksinasi COVID-19 tidak terkait dengan peningkatan kemungkinan kematian mendadak.

Studi kasus-kontrol berbasis populasi ini tidak menunjukkan hubungan positif antara vaksinasi COVID-19 dan kematian pada individu yang tampak sehat berusia

Artikel Tirto berjudul,“Tidak Benar, Vaksin COVID Sebabkan Kematian Mendadak,” menyatakan bahwa vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan, bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika divaksinasi COVID-19.

Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro menegaskan, bahwa memang benar terdapat efek samping langka berupa miokarditis (radang otot jantung) yang lebih sering terjadi pada laki-laki muda setelah vaksin mRNA.

Namun, penting dipahami bahwa kasusnya sangat jarang menyebabkan komplikasi berat dan umumnya ringan serta akan sembuh sendiri. Sebaliknya, infeksi COVID-19 justru lebih berisiko menyebabkan miokarditis yang lebih berat dibandingkan dengan vaksin.

Dokter Andreas Wilson Setiawan, M. Kes. menegaskan, bahwa hingga saat ini berbagai studi besar menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian mendadak setelah vaksinasi dan tidak ditemukan hubungan sebab-akibat antara vaksin, serta kematian jantung pada orang sehat.

“Pada beberapa penelitian, orang yang divaksin malah memiliki risiko kematian lebih rendah. Klaim bahwa vaksin menyebabkan kematian mendadak bertahun-tahun kemudian tidak terbukti secara ilmiah,” begitu jelas dr. Andreas.

Dengan demikian, narasi yang melarang total aktivitas fisik berat atau olahraga setelah menerima vaksin COVID-19 adalah klaim yang keliru. Berbagai literatur medis dan data ilmiah internasional menegaskan, berolahraga pasca-vaksinasi adalah hal yang aman, selama seseorang tidak mengalami gejala atau efek samping berat seperti demam tinggi.

Baca juga:Salah, Vaksin HPV Sebabkan Autoimun, Vaskulitis, hingga Kematian

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa penerima vaksin COVID-19 dapat menyebabkan kematian jika melakukan aktivitas fisik berat atau berolahraga adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa olahraga sebelum atau setelah vaksinasi COVID-19 mengurangi efektivitas vaksin. Faktanya, aktivitas fisik setelah vaksinasi dinilai aman selama orang tersebut merasa cukup sehat.

Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya. Vaksin ini dianggap aman secara medis dan dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga mampu menjadi proteksi dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

https://www.threads.com/share/BAbxz-O_Cy/
https://archive.today/FtWhR
https://tirto.id/salah-video-bill-gates-sebut-vaksin-covid-19-akan-mengubah-dna-hAuQ
https://www.balipost.com/news/2026/07/19/567473/Pendaki-Kelelahan-di-Gunung-Agung...html
https://www.tempo.co/cekfakta/menyesatkan-vaksin-covid-19-menyebabkan-pelari-dan-pendaki-tewas-2278434
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9996076/
https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/73/wr/mm7314a5.htm
https://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371/journal.pmed.1004924
https://tirto.id/tidak-benar-vaksin-covid-sebabkan-kematian-mendadak-hvyX
https://tirto.id/hoaks-vaksin-hpv-sebabkan-autoimun-vaskulitis-hingga-kematian-hAmR

Publish date : 2026-08-04