Tidak Benar, Efek Samping Vaksin DPT Daptacel Disembunyikan

tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial mengklaim bahwa efek samping berbahaya vaksin DPT Daptacel sengaja disembunyikan. Dalam gambar unggahan pada slide pertama disebutkan beberapa efek samping berbahaya yang disembunyikan itu, di antaranya “bayi boneka”, kejang, pingsan, menangis tak henti, dan saraf mati pelan-pelan.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Instagram @dr.michaeljp.mhad (arsip) pada Senin (3/8/2026). Unggahan pada slide pertama tersebut menampilkan tangkapan layar lembar informasi produk yang membahas potensi reaksi merugikan setelah pemberian vaksin yang mengandung komponen pertusis.

let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

"ini yang bahaya, ga dikasi tau hipotonik hiporesponsif (alias bayi boneka), seizure (kejang dengan/ tanpa deman), collapse (pingsan), nangis 3-48 jam (5 menit aja, ortunya sakit kepala), GBS saraf mati pelan2. Efek samping DPT merek Daptacel. Ini yang ringan, yang dikasih tau merah, bengkak, demam," demikian tulis pengunggah di slide pertama dalam tangkapan layar tersebut.

let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

#gpt-inline3-passback{text-align:center;}

Sampai artikel ini ditulis pada Kamis (6/8/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 734 tanda suka, 129 komentar, 190 diunggah ulang, dan 406 kali dibagikan. Kolom komentar dipenuhi reaksi tidak setuju masyarakat terhadap pemberian vaksin tersebut dan kekecewaan terhadap efek pemberian vaksin.

let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

#gpt-inline4-passback{text-align:center;}

“Makasih dokk.. Klo masih ada Yg bilang "Ga ada Hubunganya" padahal Perusahaan manufaktur nya sendiri mengakui.. yaah... kita taulah ya pola pikirnya seperti apa.

Pantesan aja KIPI di Wakanda Sangat

LANGKA..

Kejang sehabis Enjus.. dibilang "wajar"

padahal harusnya klo memang ini wajar dan beresiko seperti itu Ya Diinfo

SEBELUMnya dongg

ini belum lagi yg

Reaksinya ngga langsung lo dok (Delayed reaction).” Begitu tulis salah satu komentar.

Lantas, benarkah efek samping berbahaya vaksin DPT Daptacel sengaja disembunyikan, sebagaimana diklaim oleh pengunggah pada slide yang pertama?

Baca juga:Salah, Vaksin COVID-19 Sebabkan Kematian Pelari dan Pendaki

Periksa Fakta Efek samping vaksin DPT. foto/hotline periksa fakta tirto

Sebagai informasi, Daptacel adalah nama merek dagang untuk vaksin kombinasi DTaP (Diphtheria, Tetanus, and Acellular Pertussis) yang berfungsi untuk mencegah tiga penyakit infeksi bakteri berbahaya pada anak-anak, yaitu difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan).

Vaksin ini menggunakan komponen pertusis jenis aseluler (acellular) yang dirancang khusus untuk meminimalkan efek samping pasca-imunisasi seperti demam tinggi atau rewel jika dibandingkan dengan vaksin DPT konvensional.

Daptacel ditujukan khusus untuk bayi dan anak-anak usia 6 minggu hingga sebelum berusia 7 tahun. Vaksin ini diberikan sebanyak 5 dosis rangkaian melalui suntikan di otot, yang terbagi atas tiga dosis utama di bawah usia satu tahun dan dua dosis penguat (booster) saat anak menginjak usia balita.

Untuk memverifikasi klaim yang beredar, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli pada unggahan slide pertama. Hasil penelusuran mengarah ke laman US Food and Drug Administration yang menampilkan Package Insert-DAPTACEL. Laman tersebut menampilkan dokumen yang merupakan Prescribing Information resmi dari FDA mengenai DAPTACEL, yaitu vaksin kombinasi DTaP yang diproduksi oleh Sanofi Pasteur Inc.

Dokumen tersebut merupakan informasi produk yang dapat diakses publik dan memuat keterangan mengenai indikasi, keamanan, serta potensi reaksi merugikan dari vaksin. Artinya, informasi tersebut bukanlah data yang dirahasiakan atau sengaja disembunyikan.

Vaksin ini diindikasikan untuk memberikan imunisasi aktif bagi bayi dan anak-anak berusia 6 minggu hingga 6 tahun (sebelum ulang tahun ke-7) guna melindungi mereka dari tiga jenis penyakit infeksi berbahaya, yaitu difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan). Vaksin disuntikkan secara intramuskular dengan dosis 0,5 mL melalui skema lima kali pemberian, yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 hingga 20 bulan, dan dosis penguat (booster) pada usia 4 hingga 6 tahun.

Selain penjelasan dosis, dokumen ini menjabarkan batasan penggunaan dan faktor keamanan. DAPTACEL dilarang keras diberikan kepada individu yang memiliki riwayat alergi berat (anafilaksis) terhadap komponen vaksin, mengalami gangguan otak (ensefalopati) dalam 7 hari pasca vaksinasi pertusis, atau menderita kelainan saraf progresif yang belum stabil.

Penanganan khusus dan evaluasi risiko-manfaat juga diperlukan pada anak yang memiliki riwayat kejang, bayi prematur yang berisiko mengalami apnea, atau anak yang pernah mengalami reaksi demam sangat tinggi, pingsan, maupun menangis tanpa henti selama lebih dari 3 jam pada dosis sebelumnya.

Dokumen tersebut juga memuat laporan efek samping yang umum terjadi serta petunjuk teknis medis lainnya. Efek samping sistemik seperti rewel, lemas, dan demam lebih sering ditemukan pada dosis pertama hingga ketiga, sementara reaksi lokal seperti kemerahan, nyeri, dan pembengkakan di area suntikan lebih sering muncul pada dosis keempat dan kelima.

Dokumen ini juga menyajikan informasi deskripsi bahan penyusun vaksin (seperti toksoid yang diserap aluminium fosfat), instruksi penyimpanan dingin pada suhu 2°C hingga 8°C, serta data studi klinis yang membuktikan efektivitas DAPTACEL dalam membentuk antibodi pelindung pada tubuh anak.

Keberadaan laporan atau informasi mengenai suatu kejadian setelah vaksinasi tidak dapat membuktikan bahwa vaksin menyebabkan kejadian tersebut, terlebih dalam jumlah besar atau secara massal.

Klaim yang beredar pada unggahan tersebut menggunakan tangkapan layar dari dokumen resmi U.S. Food and Drug Administration (FDA) mengenai Daptacel, khususnya bagian 5.2 tentang reaksi yang perlu menjadi pertimbangan sebelum pemberian vaksin berikutnya. Pada bagian tersebut tercantum beberapa kejadian setelah vaksinasi pertusis sebelumnya, termasuk hypotonic-hyporesponsive episode (HHE), yang dijelaskan sebagai kondisi kolaps atau menyerupai syok, menangis terus menerus hingga lebih dari tiga jam, serta kejang dengan atau tanpa demam dalam tiga hari.

Unggahan tersebut kemudian menggabungkan informasi itu dengan laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang menyebut bahwa FDA menyetujui Daptacel pada 2002 untuk digunakan pada bayi dan anak usia 6 minggu hingga sebelum ulang tahun ketujuh untuk perlindungan terhadap difteri, tetanus, dan pertusis.

Dari penggabungan kedua sumber tersebut, unggahan menyimpulkan bahwa vaksin Daptacel menyebabkan “bayi boneka,” kejang, pingsan, menangis tak henti, dan saraf mati pelan-pelan. Unggahan itu juga mengklaim bahwa informasi mengenai efek samping tersebut sengaja disembunyikan.

Faktanya, dalam dokumen FDA tersebut kejang dan hypotonic-hyporesponsive episode (HHE) memang tercantum sebagai kejadian yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Daptacel. Namun, hal ini perlu diluruskan karena data tersebut harus dibaca berdasarkan frekuensi kejadian, konteks klinis, dan hasil pemantauan keamanan untuk menilai hubungan sebab-akibat.

Dengan demikian, pencantuman suatu kejadian dalam lembar informasi produk tidak dapat dijadikan bukti bahwa Daptacel menyebabkan berbagai efek samping berbahaya tersebut.

Laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menampilkan data asli terkait keamanan vaksin DTaP dan Tdap. CDC mencantumkan sejumlah efek samping yang dapat terjadi setelah vaksinasi.

Adapun reaksi yang umum antara lain nyeri, kemerahan atau bengkak pada area suntikan, demam, rewel, kelelahan, serta penurunan nafsu makan. CDC juga mencatat bahwa reaksi yang lebih serius dapat terjadi, tetapi jarang.

Lebih lanjut, informasi mengenai efek samping vaksin DPT juga tersedia pada sejumlah situs kesehatan seperti WebMD, RxList, dan Cleveland Clinic. Sumber-sumber tersebut mencantumkan kemungkinan reaksi setelah vaksinasi dan menjelaskan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian medis.

Dalam laman WebMD dijelaskan bahwa vaksin difteri, tetanus, dan batuk rejan (pertusis) (DTaP) digunakan untuk mencegah difteri, tetanus, dan pertusis. Vaksin ini bekerja dengan memicu respons imun tubuh untuk menghasilkan sejenis protein (antibodi) terhadap bakteri penyebab difteri, tetanus, dan pertusis.

Adapun efek samping yang umum meliputi nyeri, gatal, bengkak, nyeri tekan, atau kemerahan di dekat tempat suntikan, rewel, mudah mara, menangis yang tidak kunjung reda, dan demam. Vaksin DTaP tersedia dalam bentuk cairan yang disuntikkan ke otot oleh tenaga kesehatan.

Perlu dibedakan antara adanya potensi efek samping dan klaim bahwa vaksin menyebabkan efek samping tersebut secara massal. Adanya suatu kejadian yang tercantum dalam informasi keamanan vaksin, tidak secara otomatis berarti vaksin menyebabkan kejadian tersebut pada setiap penerima vaksin.

Dalam menilai keamanan vaksin, hubungan sebab-akibat perlu ditentukan melalui evaluasi medis dan data ilmiah, bukan hanya berdasarkan daftar kejadian yang tercantum dalam lembar informasi produk.

Adapun klaim yang menyebutkan bahwa efek vaksin menyebabkan berbagai efek samping berbahaya seperti pada unggahan tersebut, tidak dapat dijadikan dasar karena keberadaan informasi mengenai kemungkinan kejadian tertentu.

Menurut data pemantauan keamanan DTaP dari CDC, tidak ditemukan pola kejadian tidak diharapkan yang baru, dan penelitian mengenai kejang demam menunjukkan bahwa meskipun risiko dapat meningkat pada kondisi tertentu, risiko absolutnya tetap kecil.

Dengan demikian, klaim bahwa efek samping vaksin Daptacel “disembunyikan” juga tidak sesuai dengan fakta. Dokumen keamanan dan informasi produk, faktanya dapat diakses oleh publik. Informasi mengenai potensi efek samping, justru merupakan bagian dari informasi keamanan yang disediakan untuk tenaga kesehatan dan masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, dalam dokumen FAQs Imunisasi 2026 dituliskan bahwa setelah imunisasi, bisa muncul reaksi ringan dan sementara, seperti demam ringan atau nyeri/bengkak di lokasi suntikan. Namun, hal ini menandakan bahwa imunisasi sedang bekerja dan tubuh sedang membentuk kekebalan.

Reaksi tersebut kecil jika dibandingkan dengan perlindungan yang akan didapatkan oleh anak dari berbagai penyakit berbahaya jika tidak diimunisasi. Orang tua sebaiknya tetap memberikan ASI, jika demam bisa dikompres a

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang disebutkan pada slide pertama oleh akun Instagram @dr.michaeljp.mhad yang menyebutkan, efek samping berbahaya vaksin DPT Daptacel disembunyikan, adalah informasi yang tidak utuh dan perlu diluruskan (missing context).

Dokumen resmi U.S. Food and Drug Administration (FDA) mengenai Daptacel memang mencantumkan hypotonic-hyporesponsive episode (HHE) dan kejang sebagai kejadian yang perlu diperhatikan dalam menentukan pemberian dosis berikutnya, setelah vaksin pertusis sebelumnya. Namun, pencantuman kejadian tersebut tidak berarti bahwa Daptacel terbukti menyebabkan kondisi tersebut secara massal.

Selain itu, data dalam tabel uji klinis pada dokumen tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kejang yang dilaporkan dalam tiga hari setelah pemberian Daptacel pada uji yang dicantumkan.

Faktanya, informasi mengenai potensi kejadian setelah vaksinasi dan informasi produk tersedia dan dapat diakses oleh publik, yaitu pada laman CDC berikut ini.

==

Bila pembaca memiliki sar

https://www.instagram.com/p/DbkaA-gD6i-/?igsh=MWRmMTRsNnl6anRhZQ%3D%3D
https://archive.today/aScSZ
https://tirto.id/salah-vaksin-covid-19-sebabkan-kematian-pelari-dan-pendaki-hAHq
https://www.fda.gov/media/74035/download
https://www.cdc.gov/vaccine-safety/vaccines/dtap-tdap.html
https://www.webmd.com/drugs/dtap-diphtheria-tetanus-pertussis-vaccine#uses
https://www.rxlist.com/daptacel-drug.htm
https://my.clevelandclinic.org/health/drugs/19227-diphtheriatetanus-toxoids-pertussis-vaccine-dtp-injection
https://tirto.id/hoaks-vaksin-hpv-sebabkan-autoimun-vaskulitis-hingga-kematian-hAmR

Publish date : 2026-08-06