Salah, Video Klaim Vaksin COVID-19 Mengandung Grafena Oksida
tirto.id - Sebuah video beredar di media sosial Facebook mengklaim goo hitam dalam vaksin dan booster COVID-19 mengandung Graphene Oxide atau Grafena Oksida frekuensi radio aktif 5G.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “singayehuda1” (arsip) pada 3 Februari 2023 yang tertaut dengan akun Instagram @Thelionof Judahministry. Video berdurasi lebih dari 45 detik tersebut menunjukkan sebuah percobaan penciptaan gelembung-gelembung hitam di dalam cawan petri yang terhubung, membentuk struktur seperti rantai.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Ini adalah reaksi goo hitam yang dikenal sebagai graphene oxide ke frekuensi radio aktif 5G. Ini ada di setiap vaksin & booster covid-19, itulah yang menyebabkan apa yang disebut serangan jantung "penggumpalan darah", gangguan saraf... miokarditis dan sebagainya... jika masuk ke otak, permainan berakhir. Bayangkan apa yang akan terjadi ketika mereka menyalakan tiang 5G dengan kekuatan penuh pada 64 GHz. Sedihnya Kami mengharapkan 2,4 miliar orang yang divaksinasi meninggal dalam 2-3 tahun.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (7/7/2026), unggahan tersebut masih dapat diakses dan rawan dijadikan berita bohong.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Lantas, benarkah video tersebut menunjukkan goo hitam dalam vaksin COVID-19 yang diklaim mengandung grafena oksida?
Baca juga:Pelajaran Berharga dari Kasus Salah Suntik Vaksin Bayi di Bekasi
periksa fakta Graphene Oxide.
Sebagai informasi, graphene oxide atau oksida grafena adalah material turunan dari grafena, yaitu lembaran karbon setebal satu atom yang tersusun dalam pola heksagonal berpola seperti sarang lebah dan memiliki gugus fungsi yang mengandung oksigen.
Graphene digunakan untuk berbagai inovasi teknologi tinggi karena sifatnya yang super tipis, sangat fleksibel, ringan, serta menghantarkan listrik, dan panas dengan sangat baik.
Lebih lanjut, untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Kami justru diarahkan pada akun Instagram @energywireid, yang menampilkan video identik terkait fenomena listrik memicu pertumbuhan benda mati.
“Fenomena Unik: Listrik Picu Pertumbuhan pada Benda Tak Hidup. Dalam minyak kental, bola baja yang dialiri listrik mampu membentuk jaringan menyerupai tanaman. Hal ini terjadi karena dipol listrik yang terbentuk membuat bola-bola saling terhubung dan menciptakan pola bercabang.
Tanpa "otak" atau kontrol pusat, sistem ini tetap bisa tumbuh dan beradaptasi secara alami. Inilah contoh nyata bagaimana hukum fisika sederhana dapat menghasilkan bentuk yang tampak hidup.” Begitu keterangan tertulis dalam unggahan video.
Video berdurasi 45 detik tersebut menampilkan gambar bola baja yang dialiri listrik dalam minyak kental yang membuat bola baja terlihat bergerak dan saling terhubung, seolah-olah benda hidup. Video tersebut tidak ada kaitannya dengan vaksin COVID-19 dan tidak ada hubungannya dengan graphene oksida.
Video percobaan tersebut juga bisa dilihat pada lamanYouTube Stanford Complexity Group.Video yang dibuat pada 2014 tersebut menampilkan percobaan bertajuk “Self assembling Wires.” Percobaan tersebut dilakukan oleh para peneliti di Universitas Stanford dan tidak ada hubungannya dengan vaksin, oksida grafena, atau COVID-19.
Video yang mendokumentasikan percobaan oleh para peneliti di Universitas Stanford tersebut memperlihatkan sebuah cawan petri berisi butiran logam yang direndam dalam minyak jarak. Cawan tersebut dikelilingi oleh cincin logam, yang dialiri muatan listrik negatif.
Percobaan ini menunjukkan bagaimana manik-manik hitam, ketika terkena muatan positif tinggi, dapat berkumpul dan membentuk struktur seperti rantai. Kemudian, sumber energi diturunkan ke dalam pelat, yang memberikan muatan listrik positif tinggi pada manik-manik di dalam pelat. Manik-manik di dalam pelat mulai bergerak dan membentuk struktur seperti rantai.
Melansir laman Delfi, Lie Detector menuliskan tentang fakta bahwa tidak satupun vaksin COVID-19 yang disetujui, yang mengandung graphene oxide. Komposisi semua vaksin yang digunakan di Lithuania dapat ditemukan di situs web Layanan Pengawasan Obat Negara.
Berdasarkan informasi yang diberikan, Lie Detector menilai, video yang beredar di media sosial, mengklaim bahwa percobaan tersebut menunjukkan reaksi oksida grafena terhadap koneksi 5G, adalah tidak benar. Percobaan tersebut tidak terkait dengan oksida grafena, virus corona baru, atau vaksin. Terlebih lagi, bertentangan dengan klaim komentator video, vaksin против COVID-19 tidak mengandung oksida grafena.
Senada dengan hal tersebut, dalam laman Reuters, laporan yang menyatakan bahwa vaksin COVID-19 mengandung graphene oksida tidak berdasar, klaim tersebut dibantah para ahli.
Pfizer mengatakan kepada Reuters bahwa vaksinnya tidak mengandung bahan tersebut. Bahan ini juga tidak terdaftar dalam vaksin COVID-19 manapun yang tersedia secara luas di seluruh dunia.
“Grafena oksida tidak digunakan dalam pembuatan vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19,” begitu keterangan Senior Associate of Global Media Relations Pfizer kepada Reuters.
Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan A.S, bahan-bahan vaksin Pfizer meliputi: mRNA, lipid, kalium klorida, kalium fosfat monobasa, natrium klorida, natrium fosfat dihidrat dibasa, dan sukrosa, serta tidak mengandung graphene oksida.
Tidak ada vaksin COVID-19 lain yang tersedia di seluruh dunia, diproduksi oleh Moderna, Janssen, AstraZeneca, CanSino, Sinovac, dan Sputnik V, yang mengandung graphene oksida.
Dengan demikian, klaim yang menyebutkan vaksin COVID-19 mengandung graphene oksida adalah tidak benar dan tidak didukung dengan fakta ilmiah.
Baca juga:Keliru, Vaksin Dapat Merusak DNA dan Sistem Kekebalan Tubuh
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim bahwa video yang beredar, yang menunjukkan vaksin COVID-19 mengandung graphene oksida adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Video yang terlihat dalam unggahan tersebut adalah dokumentasi percobaan yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Stanford pada tahun 2014. Percobaan tersebut tidak ada hubungannya dengan vaksin, oksida grafena, atau COVID-19.
Pfizer menegaskan, vaksin COVID-19 tidak mengandung graphene oksida dan bahan ini juga tidak terdaftar dalam vaksin COVID-19 manapun yang tersedia secara luas di seluruh dunia.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
https://web.facebook.com/share/r/1E3gQFeBFw/
https://archive.today/aNth3
https://www.instagram.com/singayehuda1?igsh=MXV4azJtd2lvaWtjdQ==
https://tirto.id/pelajaran-berharga-dari-kasus-salah-suntik-vaksin-bayi-di-bekasi-hza6
https://www.instagram.com/reel/DWYctXaNwEp/?igsh=YnBxYWFkYThrNm9s
https://youtu.be/ThGvtit4Wok?si=m0dZgP9vY3tdSEqS
https://www.delfi.lt/news/melo-detektorius/melas/pasinaudoje-populiariu-fizikos-eksperimentu-skleidzia-melagystes-apie-skiepus-ir-5g-rysi-87973081?__cf_chl_f_tk=MXCl7Dywv4iJYaH1URIXDINpaL4wCITS.iflCo7vu9o-1783404742-1.0.1.1-uT0oe2lhxWsbj7ZCWx7hoaC41..OUHLxgLsaRzYyySo
https://www.reuters.com/article/factcheck-grapheneoxide-vaccine/fact-check-covid-19-vaccines-do-not-contain-graphene-oxide-idUSL1N2OZ14F/
https://tirto.id/keliru-vaksin-dapat-merusak-dna-dan-sistem-kekebalan-tubuh-hysS
Publish date : 2026-07-08
Hal Menarik Lainnya...