Keliru, Vaksin Hepatitis B Berbahaya & Sebabkan Kematian Bayi

tirto.id - Sebuah video beredar di media sosial Facebook menampilkan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari membahas vaksin Hepatitis B. Dalam video tersebut, Siti Fadilah menyebut vaksin Hepatitis B yang diberikan kepada bayi berbahaya dan mengaitkannya dengan sejumlah laporan kematian serta kejadian serius di Amerika Serikat.

Video diunggah oleh akun Facebook “Nurse Insight” (arsip) pada Minggu (26/7/2026). Dalam cuplikan video berdurasi 1 menit 30 detik tersebut menyebut bahwa Komite Penasihat Praktik Imunisasi atau Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) di bawah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melakukan pemungutan suara dengan hasil 8-3 terkait pemberian vaksin hepatitis B kepada bayi.

let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

Video kemudian menyebut terdapat 1.494 kematian, 1.730 kejadian yang mengancam jiwa, 1.759 kasus kecacatan permanen, 6.454 kasus yang dirawat di rumah sakit, serta 82.990 laporan kejadian setelah vaksinasi.

let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

#gpt-inline3-passback{text-align:center;}

“Ini adalah kabar yang anda pasti kaget. Vaksinasi Hepatitis B sampai saat ini menjadi keharusan bagi bayi-bayi yang sedang lahir di Indonesia. Bayi lahir sebelum lima hari biasanya disuntik tanpa izin orangtua.

let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

#gpt-inline4-passback{text-align:center;}

Itu katanya program pemerintah. CDC, Atlanta CDC itu pusat penelitian penyakit inulansi di Amerika, di Atlanta sana membuat voting. Boleh nggak ini, Hepatitis B ini diberikan pada bayi, ternyata 8 banding 3 “no,” ini berbahaya bagi bayi. Karena menurut penelitian mereka, kebijakan yang berlaku pada 1991 itu, ternyata terjadi kematian yang sangat banyak. Ada 1.494 kematian yang dilaporkan.

Kemudian 1.730 kejadian yang mengancam jiwa dan 1.759 orang cacat permanen dan 6.454 dirawat di rumah sakit dan 82.990 mengalami kejadian itu.

Padahal di Indonesia, vaksin Hepatitis B ini menjadi keharusan. Ini program pemerintah dan di Amerika sekarang itu sudah ditabur. Kalau kalian melahirkan di klinik, di rumah sakit, pasti juga begitu lahir disuntik dengan vaksin Hepatitis B ini.” Begitu narasi yang diucapkan Siti Fadilah pada video.

Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (11/8/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 571 tanda suka, 72 komentar, dan 284 kali dibagikan ulang. Kolom komentar terbagi dua sebagian komentar menuliskan reaksi penolakan terhadap vaksin Hepatitis B karena khawatir membahayakan dan lainnya mempertanyakan kebenaran informasi tersebut.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @biotekfarmasiindonesia, @biotek.farmasi dan TikTok @Siti Fadilah Supari, yang menampilkan video serupa terkait Siti Fadilah Supari berbicara mengenai topik kesehatan dan bahaya vaksin Hepatitis B.

Siti Fadilah Supari, menyoroti bahaya Hepatitis B terutama dari aspek cara penularannya, serta secara kritis menyuarakan pandangannya terkait kebijakan kewajiban vaksin Hepatitis B pada bayi baru lahir.

Lantas, benarkah vaksin Hepatitis B berbahaya dan menyebabkan kematian seperti klaim tersebut?

Baca juga:Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Kesehatan Anak Laki-Laki?

Periksa Fakta Vaksin Hepatitis B. foto/hotline periksa fakta tirto

Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto menelusuri informasi mengenai keputusan ACIP dan data keamanan vaksin hepatitis B dari situs resmi CDC.

Benar bahwa pada 5 Desember 2025, Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) melakukan pemungutan suara dengan hasil 8-3. Namun, konteksnya berbeda dari yang disampaikan dalam video.

Dalam keputusan tersebut, ACIP merekomendasikan individual-based decision-making atau pengambilan keputusan secara individual bagi orang tua bayi yang lahir dari ibu yang hasil tes Hepatitis B-nya negatif. Artinya, orang tua bersama tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan manfaat dan resiko vaksin sebelum menentukan apakah dosis Hepatitis B diberikan saat lahir atau dimulai kemudian.

Dari keputusan tersebut, tidak berarti ACIP menyatakan vaksin Hepatitis B berbahaya atau menyebabkan kematian. CDC kemudian mengadopsi rekomendasi tersebut pada 16 Desember 2025. Untuk bayi yang lahir dari ibu dengan hasil tes Hepatitis B positif atau status yang tidak diketahui, CDC tetap merekomendasikan pemberian vaksin Hepatitis B dalam waktu 12 jam setelah lahir.

Selanjutnya, angka 1.494 kematian, 1.730 kejadian yang mengancam jiwa, 1.759 kecacatan permanen, 6.454 rawat inap, dan sekitar 82.990 laporan kejadian memang beredar dalam pembahasan mengenai data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS). Namun, data tersebut merupakan laporan kejadian yang terjadi setelah vaksinasi, bukan bukti bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh vaksin.

CDC menjelaskan, VAERS merupakan sistem pelaporan pasif untuk mendeteksi kemungkinan masalah keamanan vaksin. Siapa pun dapat mengirimkan laporan, termasuk pasien, keluarga, tenaga kesehatan, maupun produsen vaksin. Karena itu, laporan dapat diterima meskipun pelapor tidak mengetahui apakah vaksin benar-benar menyebabkan kondisi tersebut.

CDC secara tegas menyatakan bahwa laporan VAERS tidak berarti vaksin menyebabkan kejadian yang dilaporkan. Laporan dapat berupa kejadian yang kebetulan terjadi setelah vaksinasi, kondisi yang disebabkan penyakit lain, atau kejadian yang memang berkaitan dengan vaksin. Untuk mengetahui hubungan sebab-akibat, diperlukan penyelidikan dan penelitian lebih lanjut.

CDC juga menjelaskan bahwa data VAERS memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain tidak adanya kelompok pembanding yang tidak divaksinasi, adanya laporan yang tidak lengkap atau tidak terverifikasi, serta kemungkinan satu laporan mencantumkan lebih dari satu vaksin. Karena itu, jumlah laporan tidak dapat digunakan untuk menghitung tingkat risiko atau membuktikan hubungan sebab-akibat.

Khusus mengenai vaksin Hepatitis B, CDC menyatakan, bukti ilmiah secara keseluruhan mendukung keamanannya. Dalam kajian keamanan, sebuah penelitian Vaccine Safety Datalink yang membandingkan kematian pada bayi baru lahir yang menerima vaksin Hepatitis B dengan bayi yang tidak menerima vaksin tersebut, tidak ditemukan adanya perbedaan pada kematian antara kedua kelompok.

CDC juga mencatat, efek samping yang umum setelah vaksin Hepatitis B antara lain nyeri, kemerahan atau bengkak pada lokasi suntikan, sakit kepala, dan kelelahan. Reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi sangat jarang.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi mendapatkan dosis pertama vaksin Hepatitis B sesegera mungkin setelah lahir, idealnya dalam waktu 24 jam. WHO menyebut vaksin Hepatitis B aman dan efektif. Tiga dosis vaksin dapat memberikan perlindungan sebesar 98–100 persen terhadap infeksi Hepatitis B.

Dengan demikian, pernyataan bahwa keputusan 8-3 ACIP membuktikan vaksin Hepatitis B berbahaya, tidak tepat dan perlu diluruskan. Pemungutan suara tersebut memang terjadi, tetapi berkaitan dengan perubahan pendekatan pemberian dosis lahir pada bayi dari ibu yang hasil tes Hepatitis B-nya negatif, bukan penetapan bahwa vaksin tersebut berbahaya.

Adapun dengan angka kematian dan kejadian serius yang dikaitkan dengan vaksinasi, angka tersebut merupakan laporan dalam sistem VAERS dan tidak dapat ditafsirkan sebagai jumlah orang yang meninggal atau mengalami kecacatan akibat vaksin Hepatitis B.

Melansir laman Kementerian Kesehatan RI, dijelaskan bahwa vaksin Hepatitis B diberikan pada bayi baru lahir untuk mencegah penularan Hepatitis B dari ibu ke anak pada proses kelahiran. Hepatitis B dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati.

Lebih lanjut, Tirto menghubungi pihak Kementrian Kesehatan RI. Lewat pesan WhatsApp Kemenkes menegaskan bahwa vaksin Hepatitis B untuk bayi tidak dihapus di Indonesia. Adapun perubahan yang terjadi pada 2025 adalah adanya fleksibilitas waktu pemberian dosis pertama bagi bayi yang lahir dari ibu yang terbukti negatif Hepatitis B.

Dalam kondisi tersebut, keputusan pemberian vaksin saat lahir dapat didiskusikan antara orang tua dan tenaga kesehatan. Jika tidak diberikan saat lahir, dosis pertama dapat dimulai pada usia 2 bulan.

“Prevalensi Hepatitis B (HBsAg) di Indonesia pernah mencapai 7,1% dari populasi, setara dengan sekitar 18 juta penduduk yang terinfeksi. Penularan Hepatitis B paling sering terjadi dari ibu ke bayi saat persalinan. Karena itu vaksin Hepatitis B harus diberikan dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir.” Begitu keterangan Kemenkes kepada Tirto, Senin (10/8/2026).

Badan Pengawas Obat dan Makanan BPOM serta lembaga kesehatan dunia ⁠CDC juga telah menyatakan bahwa vaksin Hepatitis B rekombinan aman, efektif, dan memberikan perlindungan jangka panjang hingga seumur hidup bagi anak.

Dengan demikian, klaim yang menyebutkan vaksin Hepatitis B berbahaya dan menyebabkan banyak kasus kematian adalah informasi yang tidak didukung oleh fakta ilmiah.

Baca juga:Tidak Benar, Efek Samping Vaksin DPT Daptacel Disembunyikan

Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang menyebutkan bahwa vaksin Hepatitis B berbahaya dan menyebabkan kematian pada bayi berdasarkan keputusan CDC/ACIP serta data VAERS, adalah informasi yang tidak utuh dan perlu diluruskan (missing context).

Dalam video tersebut memang terdapat pernyataan bahwa ACIP melakukan pemungutan suara 8-3 pada Desember 2025. Namun, keputusan itu tidak menyatakan vaksin Hepatitis B menyebabkan kematian. Angka kematian dan kejadian serius yang disebut merupakan laporan VAERS yang tidak dapat digunakan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat antara vaksin dan kejadian tersebut.

Bukti keamanan yang ditinjau CDC justru tidak menemukan perbedaan kematian antara bayi yang menerima vaksin hepatitis B dan yang tidak menerima vaksin.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

https://www.facebook.com/share/r/1cbjAX4j8o/
https://archive.today/DkGMm
https://www.instagram.com/reel/DWdlZyQCoID/?igsh=eDAwazhxbzdnaXE3
https://www.instagram.com/reel/DVXbbapkqyh/?utm_source=ig_web_button_share_sheet
https://vt.tiktok.com/ZS4Wt6kqk/
https://tirto.id/seberapa-penting-vaksin-hpv-untuk-kesehatan-anak-laki-laki-hAU4
https://www.cdc.gov/media/releases/2025/2025-acip-recommends-individual-based-decision-making-for-hepatitis-b-vaccine-for-infants-born-to-women.html?utm_source=chatgpt.com
https://www.cdc.gov/media/releases/2025/2025-hepatitis-b-immunization.html?utm_source=chatgpt.com
https://www.cdc.gov/vaccine-safety-systems/vaers/index.html?utm_source=chatgpt.com
https://www.cdc.gov/vaccine-safety/vaccines/hepatitis-b.html?utm_source=chatgpt.com
https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/hepatitis-preventing-mother-to-child-transmission-of-the-hepatitis-b-virus?utm_source=chatgpt.com
https://www.kemkes.go.id/id/lindungi-ibu-dan-bayi-dengan-imunisasi?utm_source=chatgpt.com
https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/obat_baru/Vaksin%20Hepatitis%20B%20Rekombinan.pdf
https://www.cdc.gov.en2id.search.translate.goog/hepatitis-b/vaccination/index.html
https://tirto.id/tidak-benar-efek-samping-vaksin-dpt-daptacel-disembunyikan-hARE

Publish date : 2026-08-11