[SALAH] Bayi di Jepara Meninggal Usai Imunisasi DPT

Beredar foto [arsip] dari akun Facebook “Lhynaa Marlinaa” pada Minggu (23/8/2026) berisi klaim bayi berusia 2,5 bulan di Jepara dilaporkan meninggal dunia setelah menerima imunisasi DPT 1. Unggahan disertai narasi:

“BAYI 2.5 DI JEPARA BULAN MENINGGAL DIDUGA AKIBAT IMUNISASI

Bayi perempuan berusia 2,5 bulan di Desa Wanusobo, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, meninggal dunia setelah mendapat imunisasi DPT 1 di Posyandu Melati pada 12 Juni 2025.

Sehari setelah imunisasi, bayi mengalami demam hingga 39 derajat Celsius dan pembengkakan pada paha bekas suntikan. Kondisinya sempat membaik, tetapi sekitar dua pekan kemudian bayi kembali mengalami muntah berulang, kejang, dehidrasi berat, dan infeksi.

Bayi kemudian dirawat di RS PKU Muhammadiyah Mayong. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi, dehidrasi berat, kejang, dan kondisi syok sebelum akhirnya meninggal pada 29 Juni 2025.

Keluarga menduga kematian tersebut berkaitan dengan imunisasi. Namun, dokter yang menangani bayi menegaskan bahwa sumber infeksi belum dapat dipastikan berasal dari imunisasi karena tak ada al*t untuk memastikan. Menurutnya, kematian terjadi akibat kombinasi sejumlah faktor, termasuk dehidrasi berat, demam tinggi, kejang, dan infeksi yang telah menyebar.”

Hingga Rabu (31/8/2026), unggahan telah mendapatkan 1.800-an tanda suka, menuai 700-an komentar dan telah dibagikan ulang 2.300-an kali.

Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) melakukan penelusuran dengan memasukkan kata kunci “bayi di Jepara meninggal usai imunisasi DPT” ke pencarian Google. Hasil pencarian mengarah ke pemberitaan suaramerdeka.com “Dinkes Jepara: Bayi 2,5 Bulan Meninggal Bukan karena Imunisasi” yang tayang Selasa (29/7/2026). 

Dalam pemberitaan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Eko Cahyo Puspeno, menyampaikan bahwa kesimpulan mengenai penyebab kematian bayi diperoleh berdasarkan hasil investigasi Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas PP KIPI). Hasil investigasi tersebut menyimpulkan bahwa kematian bayi tidak berkaitan dengan imunisasi maupun kesalahan prosedur. Sebelumnya, Dinkes Jepara juga telah melakukan investigasi dengan mengumpulkan informasi dari masyarakat, klinik tempat bayi pertama kali dibawa, serta RS PKU Muhammadiyah Mayong tempat bayi menjalani perawatan.

Investigasi juga mencakup penelusuran kronologi serta pemeriksaan fisik dan penunjang, termasuk hasil laboratorium. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, bayi meninggal akibat sejumlah kondisi medis, di antaranya sepsis dan volume depletion. Tim investigasi juga menelusuri bayi lain yang menerima vaksin dari jenis yang sama dan menemukan bayi tersebut dalam kondisi baik.

Sebagai informasi, imunisasi DPT merupakan vaksin yang diberikan untuk melindungi anak dari penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa setelah imunisasi dapat muncul reaksi seperti demam, nyeri, atau pembengkakan di lokasi suntikan. Sementara itu, kondisi medis yang terjadi setelah imunisasi atau diduga berkaitan dengan imunisasi disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Oleh karena itu, setiap dugaan KIPI perlu melalui proses investigasi untuk mengetahui penyebab dan hubungan sebab-akibatnya.

Faktanya, hasil pemeriksaan dokter, bayi meninggal akibat sejumlah kondisi medis, di antaranya sepsis dan volume depletion. Jadi, unggahan berisi klaim “bayi di Jepara meninggal usai imunisasi DPT” adalah konten yang menyesatkan (misleading content).

https://muria.suaramerdeka.com/muria-raya/0715631244/dinkes-jepara-bayi-25-bulan-meninggal-bukan-karena-imunisasi
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2443/mengenal-penyakit-yang-dapat-dicegah-oleh-imunisasi-dpt
https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi
https://web.facebook.com/lhynaamarlinaa/posts/pfbid0pxKJ8fy17SE7cHHTCmxMeXpdD9kayN9WtJzV6eD8Rgz454Xx7s2BDc22qpFZjodel
https://archive.ph/wip/yis9l

Publish date : 2026-09-02