Tidak Benar, Vaksin Cacar Air Sebabkan Pandemi Shingles

tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim vaksin cacar air atau chickenpox vaccine menyebabkan peningkatan kasus shingles atau herpes zoster hingga disebut sebagai “pandemi shingles”.

Klaim tersebut dibagikan oleh akun Facebook “Abu Julaibib” (arsip) pada Jumat (10/7/2026). Dalam unggahan tersebut menampilkan tangkapan layar “THE CHICKENPOX VACCINE SCANDAL THEY DON’T WANT YOU TO KNOW ABOUT - RFK JR. EXPOSES THE SINGLES EPIDEMIC COVER-UP!” yang mengaitkan vaksinasi cacar air dengan meningkatnya risiko herpes zoster pada masyarakat.

let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

“SKANDAL VAKSIN CICKENPOX YANG TIDAK MAU ANDA TAHU – RFK JR. MEMBUKA TABIR PENUTUPI EPIDEMI SHINGLES!

let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

#gpt-inline3-passback{text-align:center;}

Sementara Big Pharma dan CDC mendorong agenda suntikan tanpa henti mereka, kebenaran mulai bocor keluar: vaksin cacar air bukan menyelamatkan anak-anak. Malah menciptakan krisis shingles besar-besaran yang akan menghantui generasi!

let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

#gpt-inline4-passback{text-align:center;}

Dulu ketika CDC merencanakan wajibkan suntikan ini untuk setiap anak Amerika, mereka mempekerjakan ilmuwan Gary Goldman untuk jalankan studi jangka panjang di California. Apa yang dia temukan? Vaksinasi massal memusnahkan cacar air tapi memicu epidemi shingles di kemudian hari. Shingles 20 KALI lebih mematikan daripada cacar air. Nyeri saraf yang menyiksa, rawat inap, kematian. Sekarang sedang meledak karena kita rampas kekebalan alami dari populasi!

Mereka TAU hal ini. Data Goldman berteriak keras. Tapi CDC abaikan tanda bahaya merah, wajibkan vaksin itu juga, dan ubah Amerika jadi pabrik shingles. Sementara itu, Eropa (dan NHS Inggris) lihat ilmu yang sama dan bilang TIDAK, TERIMA KASIH. Cek situs web mereka sekarang juga. Mereka secara terbuka akui: "Kami tidak merekomendasikan vaksin cacar air karena itu menyebabkan epidemi shingles di kemudian hari." Mereka tolak main roulette Rusia dengan rakyat mereka!

Anak-anak Anda bukan dilindungi. Mereka disiapkan untuk penderitaan seumur hidup. vidio RFK menkes USA terkait ini ada di komentar.” Begitu narasi tertulis dalam keterangan unggahan.

Sampai artikel ini ditulis pada Rabu (2/9/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 118 tanda suka, 15 komentar, dan 44 kali dibagikan. Kolom komentar dipenuhi kritik negatif dan penolakan terhadap pemberian vaksin.

Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

Baca juga:Keliru, Bahaya Vaksin HPV Gardasil 9 untuk Anak Laki-Laki

Periksa Fakta Vaksin Cacar Air. foto/hotline periksa fakta tirto

Sebagai informasi, Varicella disebut juga "cacar air," menyebabkan ruam gatal yang biasanya berlangsung sekitar seminggu. Penyakit ini juga dapat menyebabkan demam, kelelahan, kehilangan nafsu makan, dan sakit kepala. Beberapa orang yang terkena cacar air mengalami ruam menyakitkan yang disebut "shingles" (juga dikenal sebagai herpes zoster) bertahun-tahun kemudian.

Adapun herpes zoster atau shingles memang memiliki hubungan dengan cacar air. Keduanya disebabkan oleh virus yang sama, yakni varicella-zoster virus (VZV). Setelah seseorang mengalami cacar air, virus tersebut dapat tetap berada dalam kondisi laten di dalam tubuh dan kemudian mengalami reaktivasi yang menyebabkan herpes zoster.

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima vaksin varicella memiliki risiko herpes zoster yang lebih rendah dibandingkan anak-anak yang pernah mengalami infeksi cacar air secara alami. Risiko reaktivasi virus dari strain vaksin juga lebih rendah dibandingkan reaktivasi virus VZV tipe liar. Dengan demikian, tidak berarti vaksin cacar air menyebabkan pandemi shingles.

CDC juga mengakui bahwa seseorang yang telah menerima vaksin cacar air tetap dapat mengalami shingles di kemudian hari. Namun, kondisi tersebut jauh lebih jarang dibandingkan shingles yang terjadi setelah seseorang mengalami cacar air. Hal ini tercantum dalam lembar informasi vaksin varicella CDC.

Dengan demikian, keberadaan kasus shingles pada orang yang pernah mendapatkan vaksin tidak dapat dijadikan bukti bahwa vaksin tersebut menyebabkan peningkatan kasus herpes zoster secara luas.

Penjelasan mengenai hubungan vaksin cacar air dan shingles juga pernah dibahas oleh Live Science. Artikel tersebut menjelaskan bahwa pertanyaan mengenai apakah vaksin cacar air dapat menyebabkan shingles telah menjadi bahan penelitian, tetapi bukti yang ada tidak mendukung kesimpulan bahwa vaksin menyebabkan peningkatan risiko shingles secara umum.

Sementara itu, Public Health Communications Collaborative (PHCC) juga menyatakan bahwa klaim bahwa vaksin cacar air meningkatkan risiko shingles merupakan klaim yang menyesatkan. Pembahasan tersebut menekankan perlunya membedakan antara reaktivasi virus setelah infeksi cacar air alami dengan risiko yang berasal dari vaksinasi.

History of Vaccines turut membahas hubungan antara vaksin cacar air dan shingles. Sumber tersebut menjelaskan bahwa berkurangnya sirkulasi virus cacar air setelah program vaksinasi dapat memengaruhi pola paparan masyarakat terhadap virus, tetapi kondisi tersebut tidak sama dengan menyatakan bahwa vaksin menyebabkan shingles.

Dokter Dicky Budiman, M.Sc.PH., Ph.D, seorang dokter, epidemiolog, dan peneliti aktif di Griffith University, Australia, dengan spesialisasi di bidang keamanan kesehatan global menjelaskan kepada Tirto, bahwa teori "exogenous boosting" yang dicatut adalah hoaks.

“Narasi hoaks yang beredar sebenarnya membajak sebuah hipotesis ilmiah asli bernama exogenous boosting, yang pertama kali diajukan peneliti Inggris R.E. Hope-Simpson pada 1965.” Demikian jelas Dicky.

Hipotesis ini menduga bahwa paparan berulang terhadap virus cacar air liar di lingkungan sosial dapat "menyegarkan" kekebalan sel-T pada orang yang pernah terinfeksi alami, sehingga menunda reaktivasi virus menjadi shingles di kemudian hari.

Karena hipotesis inilah, sejumlah negara termasuk Inggris sempat menunda program vaksinasi cacar air rutin untuk anak-anak selama lebih dari 20 tahun melalui rekomendasi Joint Committee on Vaccination and Immunisation (JCVI) pada 2002 dan 2010, bukan karena ada bukti bahwa vaksin "menciptakan" epidemi shingles, melainkan karena proyeksi model matematis tentang potensi kenaikan sementara kasus herpes zoster pada generasi yang sudah terinfeksi alami sebelumnya.

Namun, hipotesis tersebut berbeda jauh dari klaim "vaksin menyebabkan pandemi shingles" yang beredar di media sosial saat ini. Setelah lebih dari 25 tahun program vaksinasi berjalan di Amerika Serikat, data surveilans nyata yang bukan sekadar model matematis dari jutaan catatan klaim asuransi kesehatan periode 1998–2019, tidak menemukan bukti lonjakan kasus herpes zoster pada orang dewasa akibat penurunan sirkulasi virus liar. Oleh karene itu, hal ini bertentangan dengan prediksi model lama tersebut.

Riset pemodelan terbaru dari Universitas Cambridge, yang menjadi salah satu dasar keputusan JCVI pada 2023, juga menyimpulkan bahwa durasi proteksi dari exogenous boosting, kemungkinan jauh lebih singkat (sekitar 5 tahun) dibanding asumsi lama (20–50 tahun), yang sebelumnya digunakan untuk menahan program vaksinasi.

Dalam laman disebutkan NHS Inggris, klaim otoritas kesehatan Inggris yang "secara terbuka mengakui" menolak vaksin cacar air karena menyebabkan epidemi shingles, sudah tidak sesuai dengan fakta terkini.

Benar bahwa JCVI Inggris sempat menolak program vaksinasi cacar air rutin pada 2002 dan 2010 dengan alasan proyeksi model exogenous boosting di atas. Namun, pada November 2023, JCVI justru merekomendasikan agar vaksin cacar air dimasukkan ke jadwal imunisasi anak rutin, setelah mengevaluasi bukti-bukti baru yang disebutkan di atas.

Lebih jauh lagi, sejak 1 Januari 2026, NHS Inggris resmi memberikan vaksin cacar air (dalam bentuk vaksin kombinasi MMRV, measles, mumps, rubella, varicella) kepada seluruh anak dalam program imunisasi nasionalnya. Ini bertepatan dengan periode unggahan hoaks ini beredar di media sosial.

Dengan kata lain, alih-alih menolak vaksin ini, seperti diklaim unggahan, pemerintah Inggris justru kini melakukan persis apa yang menurut hoaks tersebut "mereka tolak". Fakta lapangan terkini ini secara langsung berlawanan dengan klaim yang disebarkan unggahan tersebut.

Lembaga pemeriksa fakta internasional FactCheck.org, dalam bantahannya atas pernyataan identik yang pernah disampaikan Robert F. Kennedy Jr. (RFK Jr.), juga mencatat hal serupa, bahwa sebagian negara Eropa memang memvaksinasi anak-anaknya terhadap cacar air, dan Inggris mulai melakukannya sejak Januari 2026.

Adapun terkait nama "Gary Goldman" yang disebut dalam unggahan yaitu seorang "ilmuwan CDC" yang datanya "diabaikan". Penelusuran menunjukkan konteks yang lebih lengkap: Gary S. Goldman, PhD, memang pernah menjadi analis riset (bukan epidemiolog atau dokter) dalam proyek surveilans yang didanai CDC di Antelope Valley, California, dari 1995 hingga 2002.

Sebagai informasi, latar belakang akademis Gary adalah statistika dan ilmu komputer, bukan kedokteran atau virologi. Setelah keluar dari proyek tersebut, tuduhannya soal "manipulasi data CDC" dipublikasikan terutama melalui situs-situs advokasi antivaksin, dan belum pernah dikonfirmasi secara independen oleh badan kesehatan publik mana pun, baik CDC, WHO, maupun JCVI Inggris. Sebaliknya, data surveilans berskala jauh lebih besar dari berbagai negara (Amerika Serikat, Kanada, Inggris) yang telah disebutkan di atas, secara konsisten tidak mendukung kesimpulannya.

Lebih lanjut, klaim "shingles 20 kali lebih mematikan daripada cacar air" tidak memiliki rujukan studi epidemiologi yang dapat diverifikasi. Klaim numerik serupa ditemukan dalam buku antivaksin populer Plague of Corruption (2020), yang salah satu penulisnya adalah Robert F. Kennedy Jr., figur yang sama yang disebut dalam unggahan ini dan buku tersebut, telah lama menjadi rujukan berbagai klaim keliru seputar vaksin.

Baik cacar air maupun shingles sama-sama jarang berakibat fatal pada individu dengan sistem imun sehat; risiko komplikasi berat pada keduanya justru jauh lebih ditentukan oleh usia dan status imun pasien dibanding oleh jenis penyakitnya, sehingga perbandingan rasio kematian tunggal seperti ini menyesatkan, tanpa konteks kelompok risiko yang jelas.

CDC sendiri merekomendasikan vaksin varicella sebagai perlindungan terhadap cacar air. Untuk orang yang belum memiliki bukti kekebalan, CDC merekomendasikan dua dosis vaksin varicella.

“CDC recommends 2 doses of varicella vaccine for children, adolescents, and adults who do not have evidence of immunity.” Dikutip pada laman CDC.

CDC juga menjelaskan bahwa orang yang pernah mengalami cacar air memiliki risiko mengalami shingles di kemudian hari. S

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan bahwa vaksin cacar air menyebabkan “pandemi shingles” bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

Klaim ini mencatut sebuah hipotesis ilmiah asli (exogenous boosting) yang sempat menjadi bahan pertimbangan kebijakan di sejumlah negara selama lebih dari dua dekade, namun melebih-lebihkannya jauh melampaui bukti yang ada.

Klaim tersebut kini bertentangan dengan data surveilans dunia nyata selama lebih dari 25 tahun program vaksinasi di Amerika Serikat, serta bertentangan dengan langkah terbaru pemerintah Inggris sendiri, yang justru mulai memvaksinasi anak-anaknya terhadap cacar air sejak Januari 2026. Ini persis kebalikan dari yang diklaim unggahan tersebut.

Faktanya, vaksin cacar air justru menurunkan sirkulasi virus di masyarakat secara keseluruhan. CDC menyebutkan bahwa vaksin terbukti aman dan efektif mencegah infeksi serta komplikasi berat dari cacar air.

Adapun bukti yang tersedia menunjukkan bahwa risiko herpes zoster justru

https://www.facebook.com/abu.julaibib/posts/pfbid02seUXdcz96iACsUm4YL5ZxrbpTuxkf88QEn42MYDHqUpNfrTLnXXZyQdtn9MdWSD3l?rdid=lqZdqEQA6nwLeecT#
https://archive.ph/JG9I6
https://tirto.id/keliru-bahaya-vaksin-hpv-gardasil-9-untuk-anak-laki-laki-hBsV
https://www.cdc.gov/shingles/hcp/clinical-overview/index.html?utm_source=chatgpt.com
https://www.cdc.gov/chickenpox/hcp/vaccine-considerations/index.html?utm_source=chatgpt.com
https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/current-vis/varicella.html?utm_source=chatgpt.com
https://www.livescience.com/45804-chickenpox-vaccine-cause-shingles.html?utm_source=chatgpt.com
https://publichealthcollaborative.org/alerts/misleading-claim-that-chickenpox-vaccine-increases-shingles-risk-spreads/?utm_source=chatgpt.com
https://historyofvaccines.org/blog/chickenpox-vaccine-and-shingles-risk/?utm_source=chatgpt.com
https://www.gov.uk/government/publications/childhood-varicella-vaccination-programme-jcvi-advice-14-november-2023/jcvi-statement-on-a-childhood-varicella-chickenpox-vaccination-programme
https://www.england.nhs.uk/2026/01/hundreds-of-thousands-of-young-children-now-to-be-protected-against-chickenpox/
https://www.factcheck.org/2025/05/rfk-jr-s-misleading-line-on-the-chickenpox-vaccine/
https://tirto.id/tidak-benar-efek-samping-vaksin-dpt-daptacel-disembunyikan-hARE

Publish date : 2026-09-03