Keliru, Erupsi Anak Krakatau Picu Darurat Tsunami Selat Sunda
tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim adanya “darurat tsunami” di sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “R Morris Sihotang” (arsip) pada Minggu (6/9/2026). Dalam unggahan tersebut mencantumkan sejumlah wilayah yang disebut berisiko, seperti pesisir Lampung, Anyer, Pandeglang, Kota Serang, serta kepulauan di Selat Sunda.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Darurat Tsunami
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
- Pesisir Lampung
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
- Anyer
- Padeglang
- Kota Serang
- Kepulauan di Selat Sunda
Gunung Anak Karakatau meletus.
Penjelasan Lengkap Peta Risiko Tsunami Selat Sunda
Peta ini menjelaskan bahaya tsunami yang bisa muncul jika dinding Gunung Anak Krakatau runtuh, serta waktu kedatangan gelombang dan jumlah penduduk yang terdampak.
Sumber Bahaya
Ancaman utamanya adalah runtuhnya sisi gunung Anak Krakatau ke dalam laut — seperti kejadian tahun 2018 silam yang memicu tsunami tanpa gempa pendahulu. Sisi gunung ini memang tidak stabil dan rawan longsor sewaktu‑waktu.
Waktu Gelombang Sampai ke Pantai
Setelah longsor, gelombang tsunami akan tiba dalam waktu sangat singkat:
- Pantai Anyer & sekitarnya: 20–25 menit
- Kota Serang: 25–30 menit
- Pesisir Lampung: 30–40 menit
- Kepulauan di Selat Sunda: 10–15 menit
- Pandeglang: 30–35 menit
Ini berarti waktu untuk menyelamatkan diri sangat terbatas.
Jumlah Penduduk Berisiko Tinggi
Daerah dengan populasi di atas 100.000 jiwa yang paling terancam:
- Anyer dan sekitarnya: 126.000+ orang
- Serang: 720.000+ orang
- Pandeglang: 117.000+ orang
Peringatan Paling Krusial
Saat ini BELUM ada sistem peringatan dini khusus untuk longsor gunung berapi.
Karena tsunami jenis ini muncul sangat cepat tanpa gempa besar terlebih dahulu, alat deteksi gempa biasa tidak sempat memberi peringatan. Tanda alam adalah satu‑satunya penunjuk
- Jika melihat air laut surut tiba‑tiba atau naik secara mendadak
- Jika mendengar suara gemuruh keras dari arah laut
- Jika melihat gelombang besar datang
Segera lari ke tempat yang lebih tinggi, tanpa menunggu pengumuman.
Inti Pesan Peta
Risiko ini nyata karena:
Sisi gunung Anak Krakatau tidak stabil dan rawan runtuh.Runtuhnya bisa memicu tsunami dalam hitungan menit.Wilayah pesisir punya waktu sangat sedikit untuk bereaksi.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.
Selain itu, unggahan menyebut belum tersedia sistem peringatan dini khusus untuk tsunami akibat longsoran gunung api sehingga masyarakat disebut harus mengandalkan tanda-tanda alam.
Hingga Selasa (08/09/2026) unggahan tersebut telah mendapatkan 182 komentar dan 41 kali dibagikan ulang. Lantas, benarkah erupsi Gunung Anak Krakatau memicu darurat tsunami di Selat Sunda?
Baca juga:Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Pagi Ini, Status Masih Siaga
periksa fakta Darurat Tsunami.
Untuk membuktikan kebenaran klaim, Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) dengan menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Badan Geologi Kementerian ESDM, menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau memang sedang mengalami erupsi dan berstatus Level III atau Siaga, tetapi Badan Geologi tidak menyatakan adanya kondisi darurat tsunami di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sekitar 25 jam sejak 4 September 2026 telah berakhir pada 6 September 2026. Setelah itu, aktivitas gunung api kembali menunjukkan karakteristik erupsi strombolian. Meski demikian, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih ditetapkan pada Level III (Siaga) karena kemungkinan terjadinya erupsi susulan masih tinggi. Status Siaga tersebut tidak berarti terdapat peringatan tsunami.
Dalam laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya tsunami di sekitar Selat Sunda dilakukan menggunakan berbagai sensor, termasuk tsunami gauge yang berada di sekitar Selat Sunda.
Hasil pemantauan BMKG menunjukkan tidak terdapat anomali muka air laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. BMKG juga menyatakan pemantauan terhadap kondisi laut dan aktivitas Gunung Anak Krakatau dilakukan secara intensif.
Sebagaimana diberitakan Tirto, dari hasil pemantauan BMKG, 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak menunjukkan anomali muka air laut hingga 6 September 2026. Analisis menggunakan High-Frequency Radar (HF Radar) di Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan probabilitas tsunami berada pada kategori rendah. Adapun potensi tsunami imbas erupsi Gunung Anak Krakatau hanya di bawah 40 persen.
Pelaksana Harian Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan hasil pemantauan terhadap 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut.
Berdasarkan analisis teknologi High-Frequency (HF) Radar Array yang ditempatkan di Carita dan Tanjung Lesung, probabilitas tsunami pada saat tersebut berada pada tingkat rendah, yakni di bawah 40 persen. Sementara itu, tinggi gelombang laut terpantau masih berada di kisaran satu meter.
“BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal,” begitu jelas Ardhasena melalui keterangan resmi yang diterima Tirto, Minggu (6/9/2026).
Narasi dalam unggahan tersebut menggunakan peristiwa tsunami Selat Sunda pada Desember 2018 sebagai dasar untuk menyebut adanya ancaman tsunami saat ini. Memang benar tsunami pada 2018 berkaitan dengan longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau ke laut.
Akan tetapi, kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini tidak dapat disamakan begitu saja dengan kondisi sebelum tsunami 2018. Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau setelah peristiwa tersebut relatif kecil sehingga berdasarkan evaluasi Badan Geologi, tidak terdapat potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami seperti yang terjadi pada 2018.
Senada dengan hal tersebut, Tirto melaporkan, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pertumbuhan Gunung Anak Krakatau setelah erupsi pada 2018 masih relatif kecil. Secara morfologi, kondisi gunung api tersebut saat ini dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan yang dapat memicu tsunami.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan, evaluasi terbaru menunjukkan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi pada 22 Desember 2018 masih relatif kecil.
“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” jelas Lana dalam konferensi pers, Minggu (6/9/2026).
Dengan demikian, keberadaan potensi bahaya tsunami secara umum di kawasan Selat Sunda tidak berarti setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan langsung menyebabkan tsunami. Tsunami vulkanik seperti pada 2018 berkaitan dengan mekanisme tertentu, terutama runtuhnya tubuh gunung dalam skala besar ke laut.
Meski klaim mengenai “darurat tsunami” tidak terbukti, masyarakat tetap perlu mewaspadai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Status Level III (Siaga) menunjukkan aktivitas vulkanik masih tinggi dan kemungkinan erupsi susulan masih ada.
Badan Geologi mengimbau masyarakat dan wisatawan agar tidak mendekati kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer. Masyarakat juga diimbau mengikuti informasi resmi pemerintah dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Baca juga:Mereka yang Menantikan Erupsi Anak Krakatau Mereda dari Bandara
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang menyatakan “darurat tsunami” akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, disertai klaim waktu kedatangan gelombang 10–40 menit dan jumlah penduduk yang disebut terancam, bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Gunung Anak Krakatau memang sedang berstatus Siaga dan masih berpotensi mengalami erupsi susulan. Namun, data pemantauan BMKG tidak menunjukkan adanya tsunami.
Badan Geologi menyatakan, kondisi morfologi Anak Krakatau saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan yang dapat memicu tsunami seperti peristiwa 2018.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
https://web.facebook.com/r.morris.sihotang/posts/pfbid035bkrmriCTEixfmxMUKxTwKW2JJRSFfzaGbHtWDJZ5Qs9C1kHu49BwnZthy13UYMsl?rdid=2qHvdtQKuAkUcnE5&_rdc=1&_rdr#
https://tirto.id/gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi-pagi-ini-status-masih-siaga-hCwe
https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026
https://geologi.esdm.go.id/media-center/fenomena-erupsi-menerus-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-5-september-2026
https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-terus-pantau-dampak-erupsi-gunung-anak-krakatau
https://tirto.id/bmkg-potensi-tsunami-imbas-erupsi-anak-krakatau-di-bawah-40-hCq6
https://tirto.id/gunung-anak-krakatau-tak-berpotensi-runtuh-yang-picu-tsunami-hCrw
https://tirto.id/mereka-yang-menantikan-erupsi-anak-krakatau-mereda-dari-bandara-hCvd
Publish date : 2026-09-08
Hal Menarik Lainnya...