Salah, Tidur di Lantai Terkena Kipas Sebabkan Paru-Paru Basah
tirto.id -
Beredar di media sosial Threadsunggahan mengklaim bahwa tidur di lantai dan sering terkena kipas angin dapat menyebabkan penyakit paru-paru basah.Unggahan di media sosial Threads tersebut diunggah oleh akun @samsury_muhamad (arsip) pada Sabtu (6/6/2026). Pada unggahan itu dituliskan klaim bahwa kebiasaan tidur di lantai tanpa alas atau sering berada di depan kipas angin dapat menyebabkan paru-paru basah. Klaim tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan seorang warganet.let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});“Aku kalo lagi duduk deket bapak ku nafas nya udah kaya sesak dan pengap itu kenapa yah 🥺let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});#gpt-inline3-passback{text-align:center;}Mgkn paru2 basah sering tidur di lantai tanpa alas atau hobi depan kipas angin.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.
#inline4 {margin:1.5em 0}
#inline4 img{max-width:300px !important;margin:auto;display:block;}
@keyframes popIn {
from {
opacity: 0;
transform: scale(0.5);
}
to {
opacity: 1;
transform: scale(1);
}
}
const sourceHref = document.querySelector('.share-btn a')?.getAttribute('href');
if (sourceHref) {
document.getElementById('bannerTraktirBtn')?.setAttribute('href', sourceHref);
}
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});#gpt-inline4-passback{text-align:center;}Sampai artikel ini ditulis pada Kamis (22/10/2026), unggahan tersebut telah dilihat sebanyak 46 kali dan 1 kali dibagikan.Lantas, benarkah tidur di lantai dan terkena kipas angin dapat menyebabkan paru-paru basah?
Baca juga:Gitaris Motorhead Eddie Clarke Meninggal Akibat Paru-Paru Basah
Periksa Fakta Penyebab Paru Paru Basah. foto/Fuad
Istilah paru-paru basah adalah istilah awam di Indonesia. Istilah ini bukan nama diagnosis medis yang spesifik sehingga penyebabnya perlu ditentukan berdasarkan kondisi yang sebenarnya dialami pasien.
Salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan istilah tersebut adalah pneumonia, yakni infeksi jaringan paru-paru yang dapat membuat alveoli terisi cairan dan nanah. Kondisi lainnya adalah efusi pleura, yaitu penumpukan cairan secara berlebihan pada rongga pleura, ruang di antara dua lapisan selaput yang melapisi paru-paru dan dinding dada.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, infeksi paru-paru atau disebut juga pneumonia dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau parasit, bukan semata-mata akibat paparan udara dingin.
Laman Ayo Sehat dari Kemenkes juga menjelaskan bahwa pneumonia merupakan infeksi paru-paru yang dapat disebabkan oleh bakteri dan virus, sedangkan jamur dan parasit merupakan penyebab yang lebih jarang ditemukan.
Kemenkes mencatat bahwa gejala pneumonia dapat berupa batuk, demam atau menggigil, nyeri dada saat bernapas atau batuk, kelelahan, dan sesak napas.
Sementara itu, Kemenkes menyebutkan bahwa risiko pneumonia dapat meningkat pada orang dengan penyakit kronis tertentu, seperti penyakit jantung, penyakit paru kronis, diabetes, serta pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Melansir laman National Heart, Lung and Blood Institute, secara medis pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada jaringan paru-paru, terutama alveoli atau kantung udara tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida, sehingga kantung udara tersebut dapat terisi cairan atau nanah dan mengganggu pernapasan.
Pneumonia merupakan infeksi paru-paru yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Infeksi ini memicu respons sistem kekebalan tubuh sehingga terjadi peradangan pada alveoli (kantung udara di paru-paru). Akibatnya, alveoli dapat terisi cairan atau nanah yang menimbulkan gejala pneumonia.
Karena itu, tidur di lantai tanpa alas atau mengarahkan kipas angin ke tubuh tidak dengan sendirinya menyebabkan mikroorganisme penyebab pneumonia masuk dan menginfeksi paru-paru.
Dalam tinjauan ilmiah berjudul Exposure to Cold and Respiratory Tract Infections yang diterbitkan pada 2007 mengulas hasil penelitian laboratorium dan klinis mengenai hubungan paparan dingin dengan infeksi saluran pernapasan.
Tinjauan tersebut menemukan, sejumlah bukti menunjukkan paparan suhu dingin dapat memengaruhi respons pertahanan tubuh dan berkaitan dengan peningkatan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan, meskipun tidak semua penelitian memberikan hasil yang sama.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Rhinology pada 2015 juga meninjau hubungan paparan dingin dengan infeksi saluran pernapasan atas. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa sebagian bukti mendukung kemungkinan adanya hubungan antara pendinginan saluran pernapasan dan infeksi, tetapi persoalan tersebut masih diperdebatkan
Namun, kedua penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa tidur di lantai tanpa alas atau terkena kipas angin secara langsung menyebabkan pneumonia.
Dengan demikian, perlu dibedakan antara kemungkinan dampak paparan suhu dingin terhadap pertahanan saluran pernapasan dan infeksi paru-paru yang disebabkan oleh mikroorganisme, karena keduanya bukan hal yang sama.
Senada dengan hal tersebut, melansir laman ANTARA, dr. Ermono Superaya, Sp.BTKV, menjelaskan bahwa paru-paru basah tidak disebabkan oleh kebiasaan tidur di lantai atau menggunakan kipas angin yang mengarah langsung ke tubuh saat tidur.
Kondisi ini dapat terjadi akibat infeksi paru-paru atau penyakit jantung yang menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru. Namun, kipas angin yang kotor dan berdebu berpotensi menjadi sumber paparan kuman yang dapat memicu infeksi. Oleh karena itu, kebersihan kipas angin perlu dijaga untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
"Jadi, tidur di lantai tidak menyebabkan paru-paru basah. Jadi, yang dicek jantung dan paru, tidur di lantai enggak ada masalah sebenarnya," katanya, dikutip dari ANTARA.
Menurut dr. Ermono, debu dari kipas angin yang kotor berpotensi memicu infeksi paru-paru jika terhirup, sedangkan penumpukan cairan di paru-paru dapat disebabkan oleh infeksi atau penyakit jantung. Pemeriksaan dan penanganan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya, serta memastikan tidak ada penyakit lain, termasuk tumor atau kanker.
Meski demikian, kipas angin tidak boleh dianggap sebagai alat yang mensterilkan udara, sebab risiko penularan infeksi pernapasan tetap bergantung pada keberadaan kuman, sumber penularan, dan kondisi lingkungan.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan kipas angin dan ventilasi ruangan merupakan langkah yang baik untuk menjaga kenyamanan dan kebersihan lingkungan, tetapi tindakan tersebut tidak menggantikan upaya pencegahan infeksi seperti vaksinasi yang dianjurkan dan menghindari paparan orang yang sedang sakit.
Selain pneumonia, kondisi lainnya yang sering dikaitkan dengan paru-paru basah adalah efusi pleura. Menurut Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, efusi pleura dapat terjadi ketika keseimbangan pembentukan dan penyerapan cairan pleura terganggu, antara lain akibat perubahan tekanan pembuluh darah, peradangan, atau gangguan saluran limfatik.
Efusi pleura dapat berkaitan dengan gagal jantung, pneumonia, tuberkulosis, kanker, serta emboli paru, sehingga kondisi ini tidak dapat disimpulkan hanya dari kebiasaan seseorang tidur di lantai atau menggunakan kipas angin.
Laman U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menjelaskan perihal pneumonia ini. CDC menjelaskan bahwa penyebab utama pneumonia adalah infeksi oleh mikroorganisme, termasuk bakteri seperti Streptococcus pneumoniae dan virus influenza, RSV, serta SARS-CoV-2.
Risiko pneumonia dapat meningkat pada anak berusia di bawah lima tahun, orang dewasa berusia 65 tahun ke atas, orang dengan penyakit jantung, penyakit paru kronis, penyakit hati, diabetes, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Paparan asap rokok, polusi udara, serta kontak dengan orang yang sedang mengalami infeksi pernapasan juga merupakan faktor yang relevan dalam risiko penyakit pernapasan dan pneumonia.
Sementara itu, perihal efulis pleura dijelaskan juga oleh laman Manual MSD.Di situ dijelaskanbahwa efusi pleura pemicunya dapat berupa gagal jantung, infeksi seperti pneumonia atau tuberkulosis, kanker, emboli paru, serta gangguan hati atau ginjal tertentu
Dengan demikian, klaim bahwa tidur di lantai tanpa alas dan sering terkena kipas angin bisa menyebabkan paru-paru basah tidak didukung dengan fakta ilmiah. Secara medis, pneumonia atau infeksi paru-paru disebabkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri dan virus, bukan semata-mata karena tidur di lantai atau terkena angin dari kipas.
Penelitian tentang paparan suhu dingin memang menunjukkan kemungkinan pengaruh terhadap pertahanan saluran pernapasan, tetapi tidak membuktikan bahwa tidur di lantai atau menggunakan kipas angin secara langsung menyebabkan pneumonia.
Baca juga:Gejala Penyakit Evali, Infeksi Paru Akibat Rokok Elektrik
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang menyebutkan bahwa tidur di lantai tanpa alas atau sering terkena kipas angin menyebabkan paru-paru basah bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Pneumonia merupakan infeksi paru-paru yang disebabkan oleh mikroorganisme, sedangkan efusi pleura merupakan penumpukan cairan abnormal yang dapat dipicu oleh berbagai penyakit, termasuk gagal jantung, infeksi, dan kanker.
Penelitian mengenai paparan dingin memang menunjukkan kemungkinan adanya pengaruh terhadap pertahanan saluran pernapasan, tetapi temuan tersebut tidak membuktikan bahwa tidur di lantai atau menggunakan kipas angin secara langsung menyebabkan pneumonia.
Masyarakat perlu memeriksa informasi kesehatan berdasarkan bukti ilmiah dan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami gejala yang mengarah pada gangguan paru-paru.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
https://www.threads.com/@samsury_muhamad/post/DZO6effk9iw?xmt=AQG0-ZDt7iV57iLiVfe5yTe-TyE_VflmldHySvHL8u66mkHf0g9bIZYzmFf_hwVaAXhzQ8TQ&slof=1
https://archive.today/7vHz8
https://tirto.id/payment/?article_id=1542047&article_slug=%2Fsalah-tidur-di-lantai-terkena-kipas-sebabkan-paru-paru-basah-hD9x&article_title=Salah%2C+Tidur+di+Lantai+Terkena+Kipas+Sebabkan+Paru-Paru+Basah&article_url=https%3A%2F%2Ftirto.id%2Fsalah-tidur-di-lantai-terkena-kipas-sebabkan-paru-paru-basah-hD9x&author_id=tim-riset-tirto&author_name=Tim+Riset+Tirto&sig=adbe5d8848af7f6962907d4a4edcd8fd785ed96505405fe193d7acb400243042
https://tirto.id/gitaris-motorhead-eddie-clarke-meninggal-akibat-paru-paru-basah-cC75
https://ayosehat.kemkes.go.id/penyakit/pneumonia
https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/penyakit-pernapasan-kronis/pneumonia
https://www.nhlbi.nih.gov/health/pneumonia/causes
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17705968/
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26030031/
https://www.antaranews.com/berita/4062921/dokter-meluruskan-mitos-seputar-paru-paru-basah
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3110/apa-itu-cairan-pleura
https://www.cdc.gov/pneumonia/about/
https://www.msdmanuals.com/id/home/gangguan-paru-dan-jalan-napas/gangguan-pleural-dan-mediastinal/efusi-pleura
https://tirto.id/gejala-penyakit-evali-infeksi-paru-akibat-rokok-elektrik-eujA
Publish date : 2026-10-22
Hal Menarik Lainnya...