Keliru: Video Jutaan Rakyat Berbaju Hitam Mendukung Rezim Iran

VIDEO dengan klaim jutaan warga Iran berunjuk rasa mendukung pemerintah beredar di Instagram [arsip] dan TikTok pada 12 Januari 2026. Konten ini beredar di tengah demonstrasi besar rakyat Iran dalam beberapa hari terakhir. Unjuk rasa itu dipicu masalah ekonomi seperti harga makanan dan bahan bakar mahal dan inflasi yang tinggi.

Dalam video itu terlihat sejumlah orang berpakaian hitam berbaris di jalan sebuah kota. Sebagian dari mereka mengibarkan bendera Iran. Konten itu memuat narasi: “Gelombang massa dalam jumlah besar memenuhi jalan-jalan utama di berbagai provinsi di Iran pada hari ini. Demonstrasi besar-besaran yang diikuti oleh jutaan orang tersebut digelar sebagai bentuk protes terhadap aksi kerusuhan bersenjata yang sempat terjadi di beberapa wilayah negara tersebut.”



Namun, benarkah video itu memperlihatkan demonstran pro pemerintah di Iran?

Tempo memverifikasi konten itu menggunakan pengamatan langsung, alat pendeteksi konten akal imitasi (AI), dan informasi dari sumber-sumber kredibel. Hasilnya, meski terdapat unjuk rasa untuk mendukung pemerintah Iran, namun video tersebut dibuat dengan akal imitasi (AI).

Video yang beredar memperlihatkan sejumlah kejanggalan. Pertama, bendera-bendera yang berkibar sedikit berbeda dengan bendera resmi Iran. Bendera Iran berwarna hijau, putih, dan merah dengan lambang empat bulan sabit dan sebilah pedang membentuk sebuah monogram Allah. Sementara pada video yang beredar, simbol bulan sabit tersebut tidak ada dalam bendera.



Kejanggalan kedua berupa sosok-sosok demonstran yang terlihat mematung, tidak bergerak alami seperti halnya aksi demonstrasi.  

Analisis menggunakan alat deteksi konten imitasi, AI OR NOT menyimpulkan konten tersebut memuat elemen AI sebesar 96 persen. Sementara alat Hive Moderation menghasilkan 82,6 persen kemungkinan video itu dibuat AI.



Dua Kubu yang Turun Jalan di Iran

Sejak 28 November 2025, rakyat Iran termasuk kalangan generasi Z, menggelar unjuk rasa besar-besaran untuk menuntut mundurnya rezim penguasa di Iran. Penyebab utama unjuk rasa tersebut akibat sulitnya ekonomi dan kenaikan harga yang terjadi setelah nilai mata uang terhadap dollar Amerika Serikat anjlok karena sanksi Amerika dan perang dengan Israel.  

Fluktuasi harga dan nilai tukar yang ekstrem telah melumpuhkan penjualan barang impor, menyebabkan penjual maupun pembeli tidak dapat melakukan transaksi. Protes meletus di sekitar 10 universitas, termasuk Universitas Teheran, Universitas Teknologi Sharif, dan Universitas Teknologi Isfahan, sementara pemilik usaha kecil juga bergabung dalam demonstrasi tersebut.

Iran memutus akses internet dan saluran telepon internasional ke seluruh negeri pada Kamis malam, 8 Januari 2026 akibat meluasnya aksi demonstrasi. CNN melaporkan sebanyak 2.403 orang meninggal dunia dalam demonstrasi pada Selasa 13 Januari. 

Pada hari yang sama, kelompok pendukung rezim menggelar unjuk rasa tandingan. Menukil laporan The Guardian, massa berkumpul di Teheran untuk mendukung pemerintah Iran melawan apa yang mereka sebut sebagai terorisme Amerika-Zionis. Meski ketegangan memuncak, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengklaim pada Senin bahwa situasi telah terkendali dan protes anti-pemerintah mulai mereda.

Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi video yang menyebut demonstran pro pemerintah Iran adalah klaim keliru. Meskipun benar ada sejumlah demonstrasi di Iran, namun sebagian konten dibuat dari mesin AI.

https://www.instagram.com/reels/DTaM1fjkrgm/
https://perma.cc/QDP6-PP6W?type=image
https://www.tiktok.com/@nalobian_naburju/video/7594441858076380423?_r=1&_t=ZS-931Wi1JysnR
http://aiornot.com
https://www.tempo.co/internasional/gen-z-di-iran-turun-ke-jalan-tuntut-pemerintah-mundur-2103634
https://www.theguardian.com/global-development/2026/jan/12/iran-protests-crackdown-toll-foreign-minister
/cdn-cgi/l/email-protection#9dfef8f6fbfcf6e9fcdde9f8f0edf2b3fef2b3f4f9

Publish date : 2026-01-15